Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Membaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Membaca. Tampilkan semua postingan

9 Februari 2024

Sanggar Anak Alam (SALAM): Sekolah Alternatif Biasa yang Luar Biasa

 


“Di kelas lain ada dosen yang sampai menanyakan, ‘konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) itu murni hasil pemikiran beliau sendiri atau beliau juga mengadopsi konsep pendidikan dari luar?’” Kisah seorang teman. Selama ini, saya pribadi sekadar mempelajari dan memahami, tidak mengkritisi sampai sejauh itu. Pertanyaan tersebut terjawab di buku Sekolah Biasa Saja.


Patrap Triloka, konsep dasar kerja pendidik yang digagas oleh KHD:

  1. ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan);

  2. ing madya mangun karsa (di tengah membangun kemauan);

  3. tut wuri handayani (dari belakang mendukung).


Konsep ini ternyata dikembangkan oleh KHD setelah beliau mempelajari konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Maria Montessori (Italia) dan Tagore (India). Memangnya, bagaimana konsep pendidikan dari kedua tokoh ini & KHD? Di buku ini ada penjabaran singkatnya. Kalau ingin tahu lebih dalam, mungkin bisa mencari referensi lain.



Bagian awal buku ini menyuguhkan cerita tentang beberapa tokoh penting dunia pendidikan. Membaca berbagai miskonsepsi dan menyimpangnya dunia pendidikan kita. Beberapa yang mungkin sudah kita sadari sejak dulu: sekolah hanya mencetak siswa yang ‘seragam’, sekolah hanya mencetak manusia untuk memenuhi kebutuhan industri, sekolah menghasilkan anak yang berlomba-lomba untuk mengalahkan orang lain. Jauh sekali dari konsep pendidikan yang digaungkan oleh KHD, yang seharusnya anak didik sesuai dengan kodrat yang ada dalam dirinya sehingga mengantarkannya menjadi manusia yang utuh.


Peran pendidik yang diumpamakan oleh KHD: seorang petani yang menanam dan merawat bibit tanamannya dg baik, dipenuhi segala kebutuhannya untuk tumbuh. Menanam padi, ya, tumbuhnya padi. Bukan menanam singkong, tumbuhnya jagung *eh. Sama seperti ikan yang dilatih untuk berenang, bukan diminta untuk terbang.


Sejarah panjang pendidikan di Indonesia yang melewati beberapa masa dan beragam perubahan juga dijabarkan secara singkat di buku ini. 


Buku ini mengenalkan sekolah alternatif SALAM (Sanggar Anak Alam) di Yogyakarta. Sekolah yang seperti judul buku ini, sekolah biasa saja. SALAM memiliki metodologi “daur belajar” dari pengalaman yang distrukturkan (structural experiences learning cycle). Ini seperti experiential learning yang pernah saya pelajari di kelas dan kala itu–sampai sekarang, pemahaman saya masih abu-abu bagaimana implementasi idealnya.


(Maafkan, ya, tapi belajar seperti ini kalau tidak melihat implementasi konkritnya saya sulit paham. Memang tdk ada belajar yang selesai 🙇🏽‍♀️)



Proses dan kegiatan belajar di SALAM adalah praktik dari pembelajaran kontekstual. saya dan beberapa teman pernah membayangkan bagaimana “serunya” kalau pembelajaran setiap mata pelajaran di sekolah itu saling berkesinambungan, dengan bahan ajar yang nyata dan betul-betul ada di lingkungan sekolah/anak tinggal. Selain untuk pembangunan daerah itu sendiri, tentu agar pendidikan tidak mengasingkan anak dari tempatnya berasal. Seperti perumpamaan yang pernah disampaikan Pak Agus, “Masa sekolah di pesisir pantai diberi pelajaran tentang daerah pegunungan”.


Metode pembelajaran di SALAM adalah riset. Anak-anak melakukan riset di setiap kegiatan belajarnya dan bebas memilih topik yang ingin mereka dalami. Riset sederhana di sekitar lingkungan SALAM dengan laboratorium alam: sawah, angkringan, sungai, dll. Saya pernah belajar ini, dan bingung bagaimana caranya anak memilih sendiri topik yang ingin mereka pelajari 🤯


SALAM juga melibatkan peran orang tua, masyarakat, dan komunitas dalam proses pembelajaran anak. Elemen-elemen yang memang sudah seharusnya terlibat dalam proses pendidikan. Elemen-elemen ini juga yang sering luput terlibat dalam pendidikan formal saat ini.


Untuk teman-teman saya yang juga pernah bingung bersama tentang beberapa hal yang dulu pernah kita pelajari, ayo baca buku ini. Semua hal kusut yang kita bayangkan itu, dipraktikkan di SALAM 

secara konkrit dengan sederhana yang membuat kegiatan belajar jauh lebih bermakna. 


*Buku ini hanya salah satu dari beberapa serinya. 



14 Agustus 2022

Kenapa Bertahan di Hubungan yang Tidak Sehat?


Kenapa tetap bertahan dan melanjutkan hubungan yang sudah jelas menyakitkan dan merugikan? Pertanyaan yang membawa saya untuk membaca buku ini. Dulu saya sering men-judge (parah, jagan ditiru, ya) orang yang terperangkap di hubungan tidak sehat ((kok, bisa?)), biasanya saya baca dari thread di Twitter, juga pengalaman nyata di depan mata. Kemudian, terbesit lah pertanyaan di atas.


Kekerasan dalam hubungan seperti lingkaran setan, membuat korban seakan tidak bisa lepas meski sudah babak belur. Disampaikan oleh Dr. Lenore Walker, kekerasan dalam hubungan terjadi pada tiga fase: (1) ketegangan akibat konflik yang seakan tidak ada penyelesaiannya; (2) terjadinya kekerasan akibat fase sebelumnya; dan (3) kebingungan korban, fase honeymoon ketika pelaku kekerasan bersikap manis dan meminta maaf.


Fase honeymoon terbagi lagi menjadi beberapa fase, yaitu (a) penyesalan pelaku atas kekerasan yang dilakukannya; (b) pelaku berjanji tidak mengulangi kekerasan yang dilakukan dan mencari kambing hitam atas terjadinya peristiwa tersebut; dan (c) kedua pasangan sama-sama menyangkal tindak kekerasan yang telah terjadi. Siklus inilah yang membuat korban sulit melepaskan diri. 


By the way, bentuk kekerasan itu banyak, ya. Bukan hanya fisik saja. Ada bentuk kekerasan verbal, mental, seksual, ekonomi. Bentuk-bentuk kekerasan yang “tak tampak” ini juga tidak kalah bahayanya. 


Ada juga yang namanya sunk cost fallacy effect, kekeliruan berpikir seseorang yang memilih untuk bertahan karena sudah menginvestasikan banyak waktu, sumber daya, uang, bahkan seks [hm, jan lups, intimasi dulu baru seks], dan terlalu malas kelak harus memulai sesuatu yang baru lagi. Padahal, cinta tidak harus digenggam erat jika sudah ada pihak yang terluka.


Catatan: pola kekerasan itu sesuatu yang dikehendaki oleh pelaku, bukan karena gangguan psikologis. 


Pola asuh orang tua juga berpengaruh, menyebabkan seseorang menjadi pelaku atau korban yang terperangkap dalam hubungan yang tidak sehat. Pengalaman awal anak dengan orang tua berdampak pada kemampuan anak membangun hubungan sebagai orang dewasa. 


Salah satu pemicu tindak kekerasan paling basic, cemburu. Gaes, cemburu itu bukan cinta. Cemburu itu bentuk tidak adanya rasa percaya kepada pasangan. Juga, penyebab rentannya perempuan menjadi korban kekerasan salah satunya adalah pandangan masyarakat tentang perempuan yang ideal adalah yang nurut, di buku ini disebut dengan nice girl syndrome. Padahal, menjadi penurut tanpa adanya proses berpikir secara kritis sama saja menjerumuskan diri menjadi celaka. 


Agar tidak menjadi pelaku dan korban: kenali dirimu sendiri, jaga dirimu. 


Kebahagiaan bukan sesuatu yang diberikan. Temukan kebahagiaanmu sendiri. Memang, perlu ada luka yang harus dibasuh dan diobati dalam proses menemukannya (hlm. 161).

 

Menyadari dan Menerima Sebab-Akibat Luka Masa Kecil

Mengenal dan menyelami diri sendiri adalah proses panjang yang mewah dan melelahkan. Melelahkan ketika harus menggali sebab-akibat dan menjadi mewah ketika proses itu menghasilkan pemikiran dan sudut pandang yang baru. Di satu diskusi yang didominasi oleh perempuan, seseorang pernah berkata, “Jangan berhenti. Ketika kamu sadar dengan situasinya, itu sudah luar biasa sekali. Perubahan tidak datang di waktu yang cepat”.

Dari beberapa buku, buku ini menjadi titik perubahan pikiran saya. Saya kekeh dan keras kepala menyalahkan keadaan dan orang lain. Parahnya, mengharap orang lain untuk berubah agar saya bisa merasa lebih baik dalam menjalani hidup. Padahal, itu jelas kemustahilan, sesuatu yang tidak bisa dikontrol. 


Tenaga sudah habis untuk menyalahkan orang lain dan keadaan. Ternyata, ujung dari perjalanan ini adalah mengakui dan menerima semua yang sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah, tapi kita bisa menentukan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Bagaimana menerimanya? Dengan mengetahui pula sebab-sebab kenapa orang lain berlaku demikian. Pengalaman dan perlakuan yang kita terima dari kecil sangat berpengaruh dalam membentuk siapa dan bagaimana diri kita ketika dewasa. 


Oh, ya, tentang “kita bisa menentukan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani”. Cara mencapainya adalah dengan meraih kemandirian finansial. Tidak untuk membalas dendam, ya (saya tidak lagi berbicara tentang siapa benar siapa salah. Toh, saya juga tolol. Kemampuan komunikasi saya buruk sekali. Kalau tidak malas, saya ingin menuliskan ini di kesempatan lain karena bahasannya berbeda). Tetapi, untuk menjadi manusia yang merdeka. Kalau kata orang-orang yang berani di Quora, tuh, “Pack your bag, and leave!” w a w ~


Berhasil menyadari tidak berarti sudah sampai titik. Tidak ada yang selesai karena manusia terus tumbuh dan berkembang. Seperti cinta, terus bergerak dan bertumbuh, (lho, kok ~).


Ini bukan pembahasan isi bukunya, hanya ingin berbagi perasaan setelah membaca.

Saya tampilkan daftar isi buku ini, barangkali ada hal yang membuatmu penasaran:





Buku ini cocok dibaca kamu yang tidak setuju dengan pola asuh yang kamu terima. Cocok untuk anak, cocok untuk orang tua. Bukan untuk saling menolak dan berperang, tapi untuk sama-sama belajar memahami dan memutus rantai “luka” itu.


28 Januari 2022

Dunia dan Semesta Kali - Puthut EA

 


Pertama kali melihat Dunia Kali di Kedai JBS, 2018. Saat itu saya menjadi peserta di sebuah acara yang pembicaranya adalah penulis favorit saya, Dea Anugrah. Asumsi saya tentang buku ini adalah tentang anak kecil yang begitu cerewet dan dunianya, mengingatkan pada adik saya yang usianya hanya beberapa tahun di atas Kali. Namun, niat membelikannya buku ini saya urungkan. Uang saya tidak cukup karena sudah membeli buku lain. 17 Januari 2022 lalu, Mas Puthut membagikan kedua e-book ini secara gratis di https://www.puthutea.com/, saya langsung mengunduhnya.


Seperti yang disampaikan oleh penulis, cerita-cerita ini untuk mengabadikan proses tumbuh kembang Kali. Tidak jarang saya cengengesan sendiri saat membaca. Salah satu bagian yang membuat saya tertawa ngakak ketika Kali menyusul Bapaknya yang sedang salat Jumat di masjid. “Bapak, nasinya gak habis enggak apa-apa, ya. Tapi tempenya tak habisin”, ucap Kali yang memakai celana pendek, kaos, dan menggenggam tempe goreng. Bapaknya yang berposisi di tengah langsung pucat, wakakak


Saya juga menyerap ilmu parenting yang diterapkan penulis. Menjadi orang tua sekaligus teman. Tugas orang tua bukan sekadar menyekolahkan di tempat terbaik, memberikan makanan bergizi, dan mempersiapkan tabungan buat pendidikan di masa depan. Banyak yang lupa tugas penting lain, yaitu memberikan kenangan indah ketika mereka masih kecil.Hati saya ikut terenyuh mengetahui bagaimana orang tuanya mengapresiasi hal-hal kecil yang dicapai Kali. Ikut meleleh juga membaca beberapa cerita yang menunjukkan kelembutan hati Kali. 


Cerita-cerita ringan ini menghibur, sedikit menyayat. Dunia anak adalah dunia bermain, hal yang luput dipahami oleh banyak orang tua. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, buku ini mengingatkan pada adik saya yang  usianya hanya beberapa tahun di atas Kali. Saya kasihan kepada bocah itu. Meski, mungkin, ia tidak perlu dikasihani, hanya perlu ditemani bermain. Di masa tumbuh kembang dan usia emasnya, kami tidak tinggal bersama. Di bayangan saya, separuh dunia kanak-kanaknya mungkin sudah remuk. 


Jika saya pulang, banyak hal yang diceritakannya. Dari yang menyenangkan sampai yang tidak, lebih banyak yang tidak, sih. Sebagai orang yang dipercaya menjadi pendengar, harusnya saya bisa memberi respon yang menenangkan dan menjadi orang dewasa yang baik. Alih-alih demikian, emosi saya justru seringkali tiba-tiba naik. Ketika sudah tidak bersama, saya menyesali kegagalan menjadi sosok yang baik untuknya.


Pertanyaannya sudah berganti, bukan lagi kenapa tidak bisa pulang. “Kenapa kok, tidak mau pulang?”, ucapnya ketika saya tiba di rumah, setelah satu tahun tidak lebih. 


“Kenapa cepat sekali? Di sini saja dulu. Aku tidak ada teman bermain. Apa tidak kasihan?”, protesnya saat tau keberadaan saya hanya satu minggu. 


“Lha, temanmu di kampung ini kan banyak?”, tanya saya.


“Orang-orang sudah tidak mau main di luar. Semuanya sudah punya HP, cuma saya yang tidak punya”. Dada saya sedikit sesak mendengarnya. 


Sudah, ah. Kan, keterusan, malah menceritakan cerita saya.

 

 


14 Desember 2021

Seni Mencintai - Erich Fromm


Hajat saya membaca buku ini adalah untuk mencari dan memahami apa itu cinta. Belum puas memahami relasi love-relationship-seks. Meski tak acuh, kadang pernah terpikir, sepertinya hidup ini butuh teman. Sebelum sampai kesana, saya harus paham tetek bengeknya.

Paradoks dalam cinta: dua insan menjadi satu, tetapi tetap dua.
Cinta yang dewasa adalah penyatuan dan menjaga keutuhan diri, individualitas diri. Cinta menghilangkan rasa asing dan terpisah antara manusia dengan sesamanya. Namun, tetap membiarkan kita menjadi diri sendiri, mempertahankan keutuhan diri. Cinta berarti peduli bahwa insan harus tumbuh dan berkembang sebagai pribadinya sendiri. Noted.

Jika cinta berusaha untuk mengubah, memaksakan menjadi sesuatu yang jelas bukan dirimu, is it still called love?
Lebih universal, jika cinta hanya diberikan untuk satu orang, lalu menjadikannya tidak peduli dengan orang lain, maka itu bukalah cinta. Hanya keterikatan simbiotik, atau egotisme meluas.
"Cinta adalah tindakan. Jika aku mencintai, aku berada dalam keadaan peduli secara aktif kepada orang yang kucintai, tetapi bukan hanya kepadanya".

Teringat penggalan lirik milik grup musik indie kecintaan saya, "Bagilah cinta yang banyak, maka benar kau manusia kuat".

Catatan penting:
Jangan memulai cinta yang berawal dari ketertarikan secara seksual (2018:79). Intimasi dulu, baru seks! Tindakan seksual tanpa cinta tidak akan pernah menjembatani jarak antara dua manusia, kecuali sementara saja.

Temuan di buku ini yang membuat saya kembali berpikir: cinta keibuan.
Cinta keibuan adalah cinta tanpa syarat. Ujian terbesarnya menanggung perpisahan—bahkan tetap mencintai setelah perpisahan itu.

Dalam cinta erotis, dua orang terpisah menjadi satu. Sementara, cinta keibuan, dua orang bersatu lalu memisah. Dalam konteks anak yang berada dalam kandungan sampai ia tumbuh dan keluar dari rahim ibu, dari dada ibu; hingga akhirnya menjadi manusia mandiri sepenuhnya.

Saya membayangkan betapa sulitnya mencintai dalam keadaan keterpisahan—setelah anak berkembang dan mandiri. Cinta ibu dan anak adalah bentuk cinta yang tidak setara, salah satu pembeda antara cinta keibuan dengan cinta yang lainnya, mungkin.

Beberapa kutipan dari buku:

Cinta kekanak-kanakan menganut prinsip, "Aku mencintaimu karena aku dicintai"
Cinta yang dewasa menganut prinsip, "Aku dicintai karena aku mencintai"
Cinta tidak dewasa berkata, "Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu"
Cinta yang dewasa berkata, "Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu"
-
Cinta bukan tempat beristirahat. Cinta bergerak, bertumbuh, dan bekerja bersama. Cinta membawa kita menyatu dengan pasangan dengan jalan menyatu dengan diri sendiri, bukan lari dari diri sendiri. 
-
Cinta keibuan adalah cinta tanpa syarat
Ibu mencintai bayi yang baru lahir karena dia adalah anaknya, bukan karena anak itu memenuhi syarat-syarat apapun, atau memenuhi harapan-harapan tertentu.
-
Cinta kebapakan adalah cinta bersyarat
Dalam kodrat cinta kebapakan, kepatuhan adalah kebijakan utama, sedangkan ketidakpatuhan merupakan dosa utama. Prinsipnya, "Aku mencintaimu karena kau memenuhi harapanku, kau melaksanakan kewajibanmu, karena kau mirip aku".
-
Jenis gangguan neuritik dalam cinta, diakibatkan oleh situasi orang tua yang berbeda. Seperti tidak mencintai satu sama lain, tapi menahan untuk tidak menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan. Keterasingan ini menyebabkan hilangnya spontanitas dalam hubungannya dengan anak.

Yang dirasakan gadis kecil adalah atmosfir "kesempurnaan", tapi atmosfir yang tidak pernah mengizinkan kontak akrab dengan ayah maupun ibu. Hal ini menjadikan anak perempuan bingung dan takut. Dia tidak yakin dengan yang orang tuanya rasakan. Selalu ada unsur tak terpahami dan misterius. Akibatnya, anak perempuan menarik diri dalam dunianya sendiri, melamun, asing, dan tetap bersikap seperti itu dalam hubungan cintanya saat dewasa. 


Tulisan ini pernah diunggah di: https://www.instagram.com/p/CXYAiVThG03hZC1K6McQruiUs_DwviEVixOczM0/

9 Juli 2020

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya! --Rusdi Mathari

Sumber: Dokumen Pribadi

Judul: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya!
Penulis: Rusdi Mathari
Penerbit: Buku Mojok
September, 2016

Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co. Sejak kali pertama tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa Mojok.co.

___________________________________________________________________________________________


Buku yang uapikkk dan 'ngena' dibaca di nuansa ramadan begini. Isinya dekat sekali dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Hubungan antar manusia. Ceritanya juga ringan. Tapi sungguh sarat makna. Ketika baca buku ini rasanya kepalaku seperti diketok, "Itu lho! Selama ini kamu ngga pernah peduli. Pura-pura buta dan tuli dengan apa yang ada disekitarmu". Benar-benar banyak hal sederhana—dlm keseharian terutama sikap, perilaku, dan hubungan antar manusia, yang rasanya baru membuat mataku melek. 
Ini salah satu buku yang sering kubaca ulang perbagiannya—kalau lagi pengen hehe. Buku religius yang sangat religius.


Judulnya emang ngga salah. Kita seringkali merasa pintar, paling benar, padahal bodoh saja kita tak punya.


Cerita ku dengan buku ini:
Ia kutamatkan pada 2018. Benar-benar waktu dan tempat yang sangat berharga. Seingatku hari itu bersama teman-teman HMPS 2018/2019, survey lokasi untuk proker Kurban&Baksos. Dari pagi kami berangkat, keliling-keliling ke plosok desa²—tapi aku lupa di daerah GK atau Kulon Progo atau mana. Waktu udah mau sore, bokong udah pegel kelamaan diatas motor. Akhirnya menjelang sore  Mba Ucik ngajak ke rumahnya—Mba terbaekkk hehe. Rumahnya jauuuuuh btw hahaha. 

Magrib datang, kami masih diperjalanan. Akhirnya kami mampir buka puasa di warung kecil. Sekadar minum dan makan gorengan. Singkat cerita sampailah di rumah Mba Ucik. Kami disuguhi makan berat—senangnya haha, dan basa-basi dengan keluarganya. Selesai salat magrib, akhirnya temen-temen tarawih di desa itu. Aku lupa jg apa nama desanya.


Mau ceritain gambaran desanya sedikit, menurut pandangan ku ya. Desanya lumayan masuk ke dalem², hawanya masih seger, dingin, bukan desa yang sudah terang-benderang. Masih nemuin sapi di sekitar rmh warganya. Suasana begini ngga ada di kampungku sendiri, makanya seneng hehe. .


Okay, karena aku lg datang bulan. Aku duduk sendirian di depan mushola. Sambil nunggu temen-temen yang lagi tarawih, aku baca buku ini.


Suasana, isi cerita, suara imam yg memimpin tarawih, ah. Rasanya aku masuk ke dalam cerita dan menyaksikan sendiri Cak Dlahom berdialog juga dengan tingkah lakunya. Sulit menjelaskan rasanya dengan kata. Hehe

8 Juli 2020

Norwegian Wood--Haruki Murakami

Sumber: Dokumen Pribadi
Judul: Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan ketigabelas, Januari 2020
Sipnosis:
"Kebenaran seperti apa pun, tidak mungkin bisa menyembuhkan kepediahn seseorang yang ditinggal mati kekasihnya. Kebenaran seperti apa pun, ketulusan seperti apa pun, kekuatan seperti apa pun, kelembutan seperti apa pun, tidak bisa menyembuhkan kepedihan itu. Kita hanya bisa merasakan kepedihan itu sedalam-dalamnya, dan dari situ kita mempelajari sesuatu dan sesuatu yang kita pelajari itu pun menjadi percuma di saat kita menghadapi kesedihan yang sekonyong-konyong muncul. 

KETIKA IA MENDENGAR "Norwegian Wood" karya The Beatles, Toru Watanabe terkenang Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir dua puluh tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

__________________________________________________________________________________________


Yap. Judulnya diambil dari salah satu lagu The Beatles, Norwegian Wood. Novel ini kuhabiskan selama beberapa hari, dan selama beberapa hari itu rasa pedih dan hampa ikut meresap ke dalam pikiranku. Saat bangun pagi untuk makan sahur, kepala nyut-nyutan krn terbayang kelanjutan deritanya.


Sulit sekali rasanya menjadi Watanabe yang terjebak di masa lalu. Setengah jiwanya terbawa oleh kematian sahabatnya—Kizuki dan setengahnya lagi terbawa oleh kematian kekasih alm. sahabatnya yang juga merupakan gadis cinta pertamanya—Naoko.


Novel ini menceritakan Watanabe yang terlempar kembali pada masa-masa kuliahnya di Tokyo. Kehidupan remaja dengan berbagai karakter tokoh pendukung yang masing-masing memiliki konflik yg juga rumit. Kematian, ya kematian. Beberapa tokoh memilih untuk mengakhiri konfliknya dengan kematian. Rasanya memang tidak lepas dari budaya harakiri Jepang.


Ndak usahlah ya kutuliskan bagaimana ceritanya. Aku cuma mau berbagi pengalaman pertama kali membaca karya Murakami. Seperti biasa saat membaca novel yg selalu menarik perhatianku adalah penokohannya. Watanabe yg ku kenal adalah seorang pendengar yg sedikit bicara, meskipun banyak hal yang berputar di kepalanya. Rasa-rasanya bagaimana cara ia merespon cerita org lain—padahal ia bingung bagaimana harus meresponnya, ingin kuterapkan juga. Sedikit bicara tapi orang yg dekat dengannya tetap senang bercerita. Entahlah, menurutku warna dalam diri Watanabe gelap sekali. 
Begitupula Midori. Hei Midori, I ♡ your 'wierd' characters. Bisakah aku seperti Midori, punya keberanian untuk menyampaikan perasaannya pada Watanabe, meskipun tau bahwa Watanabe tidak pernah lepas dari bayang-bayang perempuan yang menurutnya istri orang itu— ≧∇≦
Gamau ah, takut huhu~


Oh ya, rasa hampa pada jiwa Watanabe mengingatkanku dengan tokoh utama di novel Darah Muda. Rasanya senang dengan penceritaan dengan sudut pandang tokoh laki-laki. Ada berbagai jenis emosi yang rasanya baru terjamah olehku.


Kebenaran seperti apapun, tidak mungkin bisa menyembuhkan kepedihan seseorang yang ditinggal mati kekasihnya—Toru Watanabe.


(Based on my point of view)


Yay, nanti mau coba baca karya Murakami yang lainnya 🌼

6 Juli 2020

Ambivert - Arhsy Mentari

Sumber: Dokumen Pribadi


Judul: Ambivert
Penulis: Arshy Mentari
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan kedua, April 2020.
Sipnosis:
Anak bertumbuh menjadi remaja kemudian dewasa dan menua. Begitu banyak peran yang dijalankannyadalam kehidupan. Membuatnya menjalani dua wajah atau lebih yang tidak jarang serupa dua arah berlawanan bahkan bagai dua persimpangan yang menarik ulur hatinya. Pengalaman membuatnya selalu terkikis, terukir, terjungkir. Hingga tak jarang ia memilih unutk menjalani keseharian dengan kepura-puraan.

Tokoh aku, seorang anak perempuan dari golongan masyarakat umum, mengalami dilema itu. Dilema yang bisa jadi mewakili kisah anak perempuan lainnya di sekitar kita yang sedang mencari jati dirinya. Bagaimana pola asuh, hingga persahabatan, penghianatan, dan asmara, seolah membuatnya terpaksa mengenakan berbagai persona. Topeng-topeng yang terbentuk tanpa sengaja. Topeng-topeng yang ingin dilepaskannya tanpa tersisa untuk menemukan jati diri. 

________________________________________________________________________________________________________________

Buku ini tiba bersama tiga buku lain. 
Berhari-hari selama menunggu mereka tiba, aku ngebatin, "Ambivet akan jd yg pertama kubaca!". Potongan kalimat di buku ini sempat diunggah oleh penerbitnya. Setelah membaca itu, aku jadi punya ekspektasi tinggi tentang buku ini.


Oh ya. Ini bukan review, hanya berbagi pengalaman saat membaca. .

Lalu, apakah ekspektasiku terbayar?
Jawabannya adalah, ya. Hanya pada lima halaman pertama. .

Nanti ku jelaskan. Kita bahas dulu bagian-bagian buku ini. Secara garis besar ada tiga bagian yaitu, (1) Ia dan Mereka berisik, (2) Tentang Kita, (3) Menjadi Diri Sendiri.

Lima halaman pertama di bagian ini sangat ajaib untukku. Penulis merangkum perasaan senang yang tidak bisa saya jelaskan saat pindah. Ini pengalaman pertamaku menangis saat membaca buku, padahal baru di halaman ke tiga. .

Pada sub Lingkaran Kecil — siapa kuartikan sbg keluarga, penulis bercertia sedikit tentang masa kecilnya.
Si Diam. "Tidak banyak hal detail yang bisa dipindahkan. Kalimat ini diambil pada saat memori selesai. Ingatan yg muncul tentang masa kecil itu adalah, "Tanganmu itu tangan perusak!", Terus bersama beberapa masa lalu yg bertubi-tubi memenuhi kepala.

Kemudian, Anak Tengah.
Bagian yg cukup pedih. Memberi pengalaman aku sebagai pembicara seperti sedang berdialog menyurahkan isi hati dengan sebuah buku. Apa kamu tau rasanya terasingkan tanpa ada seorangpun yang menarik kamu dari keterasingan itu? Tidak ada yang mengenalmu. "Jadilah tangguh dan bukan tiang untuk kau sanggah", pesan yang ku garis bawahi pada bagian ini.

Udah, segini aja hehe.
Lima halaman pertama itu seperti klimaks.
Aku menikmati bagian satu, dan sedikit menikmati pada bagian tiga. Aku membaca bagian dua hanya sbg disetujui, krn rasanya tidak baik berlalu begitu saja. Bukan berarti tidak bagus, hanya tidak relevan untukku. Bagian yang membahas tentang balada hubungan. Aku belum sampai pada kehidupan 'romantis' itu.

"Setiap org punya teras, ruang tamu, dan kamar. Masing-masing tuan rumahlah yang menentukan siapa yang boleh dan tidak, kpn dan luas kebolehannya". 

Secara keseluruahan, buku ini tentang perjalanan yang membawa kita pada berbagai fase kehidupan. Pengalaman dan pelajaran membuat kita harus memainkan banyak peran dengan berbagai topeng. Meskipun itu bukan topeng yang ingin kita kenakan. .

Dari sudut pandang seorang perempuan sebagai tokoh utama.

Nilai 7,5 / 10.

Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! -- Kalis Mardiasih


Sumber: Dokumen Pribadi
Judul: Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!
Penulis: Kalis Mardiasih
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan Pertama, Oktober 2019.
Sipnosis:
Setiap kali mendengar suara azan yang dilantunkan oleh suara sepuh terbata-bata, melihat bangunan madrasah Islam tradisional dengan keriaan anal-anak, atau sesederhana melihat papan nama masjid di perkampungan, saya sering merasa bahwa Islam telah cukup. --Islam yang Cukup

Kalis Mardiasih merisaukan fenomena beragama yang di tangan sebagian kalangan begitu eksklusif dan menyeramkan. Baginya, beragama seharusnya menyenangkan, dipenuhi kebaikan. Tidak sesak oleh amarah atau hasrat penaklukan.
Kebaikan-kebaikan itu ia temukan dalam praktik keberagamaan yang sederhana. Ia berbicara dengan orang-orang bersahaja, menyaksikan cara mereka mengamalkan kesalehan, dan menemukan Islam yang teduh di sana. Dalam dirinya, Islam tumbuh bersama dengan kegembiraan.

_________________________________________________________________________________________________________________

Buku yang dibeli sekitar akhir tahun 2019 akhirnya selesai dibaca. Setelah melihat penulisnya udah nerbitin buku lagi sekitar Maret/April lalu. Lalu ngebatin, "Astaga. Udah nerbitin buku lagi, padahal yang dibeli kemarin belum kubaca ≧ ω ≦"

Ini bukan review gaes, tapi senang ingin bercerita tentang pengalaman yang disajikan kompilasi menyelami isi buku ini.

Buku ini ringan dan renyah. Lagi dan lagi, dekat sekali dengan keseharian. Sesuai dengan pernyataan Mba Kalis sendiri yang menyatakan bahwa ia bukan pengarang yang mengusung tema Islam secara khusus. Tulisan-tulisannya didasari oleh pengalaman, baik yang dialaminya sendiri atau orang-orang yang terlibatnya. "Setiap pengalaman mestinya sah sebagai realitas keberagaman ..."

Buku ini membawa kesadaran tentang manusia tidak ada kata untuk berhenti belajar, mengenal hal-hal baru, dan mengakui keberagaman. Tidak menghargai satu hal Hanya dari satu sudut pandang. Mba Kalis menggambarkan pengalamannya yang juga pernah menjadi orang yang mudah "menghakimi perbedaan". Setelah lebih mengenal keberagaman dan buku, ia berhasil melepaskan kebiasaan tsb. Jangan pernah berhenti belajar dan selalu menambah wawasan tentang salah satu kuncinya🔑
—saya perlu usaha yang cukup keras untuk melepaskan dirimu dari belenggu hitam-putih, sampai sekarang masih berusaha.

Kemarin kompilasi Mba Kalis salah satu cuitan selebgram dan tanggapannya ditanggapi lagi oleh nitijen. Melihat santainya respon Mba Kalis, saya jadi bertanya dalam hati, "Kok Mba Kalis ini bisa tetap nongkrong ya ngadepin orang² yg jaka sembung .....". Akhirnya menjawab saya dapat di sub bab terakhir di buku ini — Pengalaman Saya "Menikmati" Bully di Media Sosial.
Sebelum sampai pada "Menikmati", tentu saja ada beberapa fase yang harus dilewatinya.

Sedikit pesan Gus Dur yang saya kutip dari buku ini, "Jika memang melakukan kesalahan, harus belajar untuk rela meminta maaf", ikuti dengan mudahnya yang terkenal, "Melarang ideologi dan bahaslah sia-sia dan itu tidak mungkin dilakukan".

Judulnya emang ngga salah. Hijrah jangan jauh-jauh, nanti nyasar! Nyasar ke mana? Baca aja sendiri bukunya. Barangkali dapat pengalaman yang berbeda ^^ ♡