Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

6 Juli 2020

PASAR LAMA


Sumber: Dokumen pribadi
Jaffron
Sumber: Dokumen pribadi

 

Jaffron, binatang yang perangainya menjelma  iblis dan malaikat. Tidak perlu bertanya, binatang ini tak memiliki nama ilmiah. 
Pulau ini dikenal dengan kualitas timahnya yang sangat baik. Tambang timah seperti mata pisau. Tapi bukan ini yang akan kuceritakan. Kota kecil di bagian barat pulau ini, pencaharian masyarakatnya selain melaut, sama seperti yang dilakulan orang-orang di zaman peradaban kuno dan masih bertahan hingga sekarang, bercocok tanam.


Penghasilan yang diperoleh baik dari laut maupun darat, semuaya diperjualbelikan di pasar Gebong. Pasar sebagai salah satu pemutar roda ekonomi. Apalagi pentingnya kalau bukan untuk mengisi perut!  Segala bentuk perkembangan sosial dalam masyarakat bisa ditemukan di pasar. Apalagi pasar Gebong, tidak perlu televisi untuk mengetahui kabar dari sebrang pulau. Para nelayan ketika membawa ikan kepada pengepul, merekalah yang menyampaikan berita buruk dan baik. Kemudian menyebar secepat kilat ke seantero pasar.


Semakin pasar Gebong berkembang, semakin lalailah mereka. Beberapa lupa perannya sebagai manusia. Sepanjang malam para lelaki berpesta tuak! Gebong menjadi pasar 24 jam! Sementara istri-istri mereka di rumah mengupas ketela sambil cemas berdebar membayangkan suami mereka pulang dengan membawa perempuan muda. Mereka juga gemar menghisap darah saudaranya sendiri. Para kelompok pengepul seringkali bersekongkol melakukan permainan harga. Jual-beli barang haram mulai marak.


Sebelum berhasil pemilik modal menguasai pasar, Jaffron bangun dan keluar dari sungai Jero. Sungai besar yang terletak tepat disebelah pasar. Selain karena geram dengan kegiatan orang-orang di pasar Gebong, ia bangun karena sungai tempat tinggalnya telah menguning akibat orang-orang pasar membuang sampah dan tai seenaknya.


"Kalian telah menjelma pembunuh!" maki Jaffron, sebelum  memporak-porandakan pasar Gebong.


Sebelum melanjutkan cerita yg tak populer ini, aku ingin memberi tahu bahwa gambar ini dibuat oleh orang-orang pasar generasi selanjutnya untuk mengenang Jaffron sebagai sejarah di masa lalu. Siapa yang menggambarnya? Entahlah aku hanya memotret.


Sumber: Dokumen pribadi
Sungai Jero
Sumber: Dokumen pribadi 


Penampakan Sungai Jero, tempat di mana Jaffron berasal. Padahal Jaffron tau, menginjak tempat tinggal manusia sama dengan mengunjungi neraka dunia. Lalu mau bagaimana lagi, binatang saja tak punya hasrat untuk tinggal di tempat yang kotor.


Hari itu merupakan peristiwa yang tidak terlupakan bagi orang-orang selanjutnya yang hidup di Pasar Gebong. Pembantaian paling ganas yang pernah terjadi di muka bumi. Namun, semacam jadi kesenangan bagi burung pemakan bangkai dan linta penghisap darah.


Manusia-manusia telah menerima pembalasan setimpal atas perbuatan mereka. Tak lantas membuat Jaffron puas. Setelah kejadian berdarah di Pasar Gebong, Jaffron meninggalkan daerah itu, sebab ia tau bahwa Sungai Jero tak akan kembali seperti sedia kala. "Dasar manusia! Jangankan masih hidup, sudah mati pun tetap meninggalkan bencana" umpatnya sebelum melesap dalam perjalanannya mengelilingi dunia.


Berdasarkan kabar burung yang beredar, kini Jaffron telah diberi titah oleh para dewa untuk menjaga danau tertua dan terdalam. Jaffron berhasil membuat danau yang terletak di Siberia tersebut menjadi danau terbersih di dunia!


Danau Baykal.


Sumber: Dokumen pribadi
Pasar Gebong
Sumber: Dokumen pribadi 


Bukan hanya karena peristiwa berdarah di masa lalu yang menjadi penyebab pasar Gebong hanya tinggal cerita. Laut pulau ini menjadi lintasan perdagangan dan tempat persinggahan bagi para pelancong. Beginilah nasib daerah kepulauan. Seiring waktu, maka masuknya berbagai kebudayaan tidak dapat dihindari. Awalnya orang-orang membangun rumah bertingkat hanya untuk menjadikannya kamar tidur. Lantai bawah dijadikan dapur, ruang berkumpul, dan tempat penyimpanan barang. Hari ini rumah bertingkat dijadikan sebagai simbol kekayaan harta.
 

Kerusakan yang berawal dari Sungai Jero kini merambat ke darat, laut, bahkan hingga cakrawala. Bangunan-bangunan dibangun tinggi menjulang menutupi langit. Menara bangunan-bangunan itu menghembuskan asap-asap hitam ke udara. Kata mereka, itu bagian dari proses pengelolahan hasil tambang. Jika penghuni pulau ini ingin sejahtera, maka inilah yang harus dilakukan. Lubang-lubang raksasa digali sedalam-dalamnya. Memperkosa bumi adalah hobi baru manusia di zaman ini. Menulis cerita ini sebenarnya juga membingungkan. Standar sejahtera siapa yang harusnya diterapkan pada kehidupan masyarakat pulau? Apakah standar mereka, orang-orang yang bahkan lebih maju dari pada zaman itu?


Sudah cukuplah meratapi akhir dari cerita ini. Pasar Gebong yang memutar roda ekonomi, kini sudah tak lagi pada porosnya. Modernisasi turut mengambil peran dalam menjadikan pasar ini tinggal cerita. Sekarang mereka punya pasar baru, tapi hanya pemilik kantong tebal yang bisa ke sana.


Puing-puing bangunan ini menjadi saksi bisu bahwa sesungguhnya setiap masyarakat memiliki standar mereka sendiri tentang sejahtera. Tak setinggi milik para pengejar zaman. 


Bencana. Bencana. Bencana bertubi-tubi.

4 November 2019

Buluh Sedarah


Selamat Membaca  ^^
(Sila meninggalkan saran dan kritik di kolom komentar)

Sumber: Google

Buluh Sedarah

           Konon katanya pulau kami ini dijaga oleh naga yang sedang tidur panjang, mengelilingi pulau ini seperti cincin. Di bagian Selatan kami hidup bersama orang-orang dari suku Hakka yang pindah dari Guangdong. Kedatangan mereka lebih awal dari orang-orang ras kami, untuk merasakan hidup lebih baik. sejak tiga abad silam kami bersama ras mata sipit itu dengan sepenuh hati memajukan pulau ini.
            Kau tau, sekarang sedang berselimut duka karena kabar kepala kampung kami yang tiba-tiba mati. Bulak bagai muntah tiada henti keluar dari sungut orang-orang suku Lom, menciptakan berbagai cerita tentang mayat kepala kampung yang dibawa pulang oleh sekumpulan krasalong. Bukan hanya itu, kepala suku dipulangkan tidak lengkap dengan hatinya. Apakah ada seseorang yang memberi perintah kepada  mereka? Tapi bukannya mereka itu tuli?
            “Jang, Bujang. Pergilah antar kepala suku ke kubor. Jangan lupa malam datang takziah ke rumah duka” sore itu Mak mengingatkan Bujang yang sibuk menyanyam dulang permintaan Miak. Sudah pasti ia tidak akan pergi sebelum menyelesaikan tugas dari Miak dan tidak mungkin juga mengingkari permintaan Mak. Semua masyarakat lokal sangat menjunjung tinggi adat kebudayaan nenek moyang mereka. Tidak ada satupun ritual peninggalan nenek moyang yang mereka tinggalkan.
            Sudah terhitung satu minggu sejak kematian tragis kepala kampung, kampung ini jadi sepi dari aktivitas malam. Semua penduduk percaya bahwa arwah kepala kampung masih berkeliaran disekitar, kecuali Miak. Heran juga ia dengan Mak yang setiap hari sembahyang menyembah Tuhan tapi masih takut dengan setan. Ia sendiri mana sudi percaya pada hal tidak masuk akal seperti itu. Menurutnya, setelah menempuh kematian maka orang-orang itu akan hidup jauh lebih merdeka di alam pikirnya masing-masing.
***
            “Mak, buatkanlah acara kecil-kecilan untuk merayakan pernikahanku dan Bujang. Tidak usah membuat perayaan yang berlebihan karena kita tidak punya banyak uang,” dandang berisi sayur darat yang baru matang terhempas dari tangan Mak. "Bagaimana bisa kau meminta pernikahan dengan Adik kandungmu sendiri. Haram jadah! Semakin hari kudaimkan kau semakin menjadi! Menciderai leluhur!” suara Mak bergetar memenuhi bubung atap. Hal yang paling ditakutkan oleh Mak terjadi. Mana ada satu keyakinanpun yang memperizinkan saudara kandung menjalin pernikahan. “Kacau… kacau! Ini akan menjadi awal dari kehancurkan kampung kita semua!” keluh mak dengan dada yang sesak, entah dari mana Miak mendapat perangai demikian. Pahit, hitam sudah rasanya hati Mak mendapati anak perempuannya meminta keputusan demikian.
            “Aku tidak ingin menjadi perawan tua dan tidak mau menikah dengan pemuda kampung ini. Semua orang di sini sama saja, suka menelan mentah sebuah tahayul. Hanya Bujang yang sesekali sejalan dengan apa yang kupikirkan” usahanya tak henti untuk meyakinkan Mak. Tanpa perlu menunggu hari berlalu, kabar permintaan Miak untuk menikahi Bujang telah tersebar ke penjuru kampung. Siapa gerangan yang membawa berita ini? Apakah ulah krasalong lagi? Tidak masuk akal burung tuli mampu menyebarkan pesan aib kepada seluruh penjuru kampung.
            “Pergi!”
            “Usir!”
            “Pendosa!”
             “Pelanggar nilai-nilai luhur!”
            “Usir mereka dari kampung ini!” teriakan penduduk kampung sebelum magrib menjelang. Mak menangis sampai tak bersuara akibat ulah kedua anaknya. “Dengan siapa lagi aku hidup jika tidak dengan kalian” pasrah Mak dalam sakit hatinya.
            Bukan lagi urusan tentang siapa benar dan siapa salah, tapi tentang keinginan siapa yang paling besar. Miak keluar bersama Bujang, dengan kepala tegak ia mengucap lantang pada seluruh penduduk yang mengusirnya, “Manusia hati kalian hitam! Kita hidup rukun berhimpun tiada salah sikap dan patah sekalipun dariku, hanya perihal kawin kalian menempatkanku seperti orang paling berdosa. Apa kalian para penyembah batu lebih mulia derajatnya! Hiduplah kalian semua dengan pertanyaan-pertanyaan yang busuk mengakar dalam pikiran. Tidak ada rembug dalam pikrian maka tiada merdeka kalian selama-lamaya!”
***
            Kau tahu? Setelah kepergian Miak dan Bujang, kehidupan di kampung berjalan tidak serukun sedia kala. Belakangan banyak warga yang melapor ayam peliharaan mereka mati secara tragis bahkan ada yang menghilang tanpa bekas, bukan dalam jumlah yang sedikit. Simpang siur kabar burung datang lagi bahwa pelaku dibalik mati dan hilangnya hewan ternak adalah perbuatan orang-orang suku Lom. Mereka menganggap orang-orang itu hidupnya mulai terancam karena alam tidak mampu lagi menyediakan sumber kehidupan. Kurang ajar sekali memiliki anggapan demikian padahal ku tanyakan padamu, siapa sesungguhnya yang mengkhianati alam!
            “Mati… Mati… Dewi, anak perempuanku, mati” datang berita kematian.
            “Mati… Mati… Anakku, Adi, mati” datang lagi berita kematian.
            “Mati… Mati… Ibuku, mati” datang terus berita kematian. Kini sedekat itu ajal dengan penduduk kampung. Hal ini semakin membuat seluruh penduduk yakin bahwasannya dua pasang saudara itu benar-benar menjadi penyebab kesialan bertubi pada kampung ini.
            Orang-orang itu mati karena berjalan mengikuti angin arah Barat. Apa yang sesungguhnya membawa mereka berjalan ke arah sana. Apakah itu akses pintas neraka yang diciptakan tuhan untuk bumi?
            Aku di sini memang hidup dengan pikiran yang telah mati. Aku menelan sumpah Miak ketika ia bernajak pergi. Kuikuti penduduk yang berjalan ke arah Barat pulau ini. Lagi-lagi kabar dari krasalong. Burung tuli yang selalu membawa kabar tanpa kejelasan kebenaran. Seorang penduduk merasa menerima perintah dari mimpinya yang berupa seruan untuk pergi menyusuri arah Barat, di sana banyak harta kekayaan yang akan membawa kampung ini keluar dari kesengsaraan.
            Dalam di tengah hutan Barat pulau, aku lihat, itu dia! Miak pemberi sumpah. Ia bersetubuh dengan buluh dan Bujang mengkiat semua sumpah serta serapahnya. Dada Miak bersimbah darah karena bulu halus buluh yang tajam. “kau tau Bujang, bair buluh ini menjadi penembus bumi yang mengakarkan ideologi. Biar kumakan setiap hari hati manusia untuk menyatukan kebusukan dalam darah dagingku. Biar turut mengakar pada alam. Biar orang-orang yang datang mati dibunuh oleh rasa penasarannya sendiri! Atas segala sumpahku, tanah ini adalah kampung Senang Hati, lalu biarkan darah kita tertanam bersama akar buluh, biar kita menjadi penjanga tanah ini.”
            Alam lebih menerimanya. Pesan terakhir yang Miak ucapkan padaku, “Terima kasih atas segala tugas dan pengabdian darimu” usai sudah. Sekarang, biarkan aku pergi terbang mencari kabar-kabar berita baru. Aku memang tuli, tapi hatiku belum mati. Dan kau, tanggung jawabmu meneruskan cerita ini kepada seluruh manusia dipenjuru bumi!






Note: Alhamdulillah cerpen ini menjadi jaura ketiga pada lomba cipta cerpen Bulan Bahasa dan Sastra tingkat Universitas yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2019.

24 Februari 2019

Toko Batik Yudhistira

Toko ini masih sama seperti dulu, masih menyediakan bangku di dekat pintu masuk. Padahal sudah berlalu berapa generasi, kenapa mereka tidak merubah tatanannya. Dua orang dari arah parkiran berjalan ke arahku, tapi sedari tadi mereka tak kunjung sampai. Tuk,tuk,tuk…. Suara ujung tongkatnya yang beradu dengan konblok.

“Pasangan tunanetra”, gumamku pelan. Mereka hanya menggunakan satu tongkat. Tangannya saling menggenggam erat. Dari tempatku duduk, suara mereka hanya terdengar seperti gumaman saja. 
Mereka melewatiku, tentu saja aku memerhatikannya. Mereka merundingkan warna baju batik yang akan mereka beli. Tidak ada perdebatan, dan tidak ada pramuniaga yang menahan tawa melihat wajah pengunjungnya. Keberadaan mereka membuatku jadi teringat padamu. Apakah ini kali pertama mereka datang ke sini? Jika iya, berbeda sekali dengan kita, dulu.

***

Orang Jogja mana yang tidak kenal keramaian Jalan Taman Siswa? Terlebih malam hari, jalan ini menjadi begitu padat dan penuh asap polusi. Tapi motor tuamu masih sangat kuat membawa kita berdua menyusuri jalanan ini. Dari makanan pinggiran, hingga menu kebule-bulean, bisa kita dapatkan di sini. Aku selalu menyerahkan padamu, untuk urusan memilih tempat makan. Kamu lebih bisa mengatur semuanya. Kapan harus memenuhi keinginan, dan kapan harus hidup prihatin. Kamu pintar sayang, dan kamu yang membuat Jogja semakin terasa nyaman bagiku.

Dulu kamu aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, orang-orang mengenalmu. Sebagai orang yang tidak populer, aku merasa geram dan senang. Senang karena kamu yang penuh pengetahuan, selalu menjadi sumber informan dan temanku berdiskusi secara pribadi, dan geram karena kamu selalu menggunakan batik yang sama pada setiap kegiatan resmi yang kamu hadiri. Andai saat itu kamu lebih peka pada bajumu yang sudah memudar warnanya.

Malam itu kita sempat berdebat ringan di parkiran Toko Batik Yudhistira. Kamu marah denganku yang ingin membelikanmu baju batik baru. Padahal aku sudah menyisihkan uang makanku selama sebulan terkahir. Sadar tidak sih, betapa anehnya kamu dulu. Tapi, aku ya, tetap diriku, dan kamu tidak akan pernah mematahkan apa yang kuinginkan. Aku tidak tau betul bagaimana perasaanmu saat itu, apa kamu merasa gengsi dibelikan baju olehku? Seharusnya biasa saja, aku tidak pernah perhitungan sedikitpun untukmu. Bukankah kamu juga begitu?

Pramuniaga yang melihat pertengkaran kita dari balik etalase menahan tawa saat kita masuk ke dalam. Kamu sadar tidak kalau saat itu mereka menertawakanmu yang bermuka masam? Aku sih, tidak peduli. Ini adalah hadiah pertama untukmu, sejak kedekatan kita. Aku jadi tau, ternyata mencarikanm baju sangat sulit. Kamu cerewet! Pantas baju yang kamu pakai hanya itu-itu saja.

***

“Sayang, ayo masuk. Bantu aku memilih batik yang cocok untuk bertemu klien, besok. Anak-anak juga ingin, aku tidak bisa memilihkan untuk mereka”.
Ah, terlalu lama memikirkanmu. Suamiku memanggil, maaf aku harus masuk dulu.


Terminal F5
Sabtu, 23 Februari 2018
14:24 WIB

16 Desember 2018

ANXIETY DISORDER - CERPEN

Sumber Gambar: Google

Lihat wajah laki-laki yang selalu datang setiap malam telah larut, ia bebas menginjakkan kakinya dirumah ini kapanpun. Kepalanya botak licin membuatku semakin enggan lebih lama melihat rupanya. Tangannya yang kurus dan hitam terbakar matahari selalu membawa bendera merah. Perempuan setengah baya di rumah ini melayaninya dengan baik, tapi mereka tidak peduli dengan kehadiranku. 

Di tengah ruang kamar aku duduk terpaku. Berjam-jam, hingga seringkali aku marah dengan sinar matahari pagi yang perlahan merambat melalui ventilasi, macam sinar dari neraka. Bagaimana tidak, sepanjang malam hingga pagi otak ini bekerja memikirkan nasib mereka. Lalu sinar itu membakar semua lamunanku. Kalau aku tidak memikirkannya, siapa yang peduli? Sekumpulan manusia yang diberi iming-iming atas nama emansipasi. Mereka dikumpulkan, diperlakukan (seolah) dengan baik. Dirayu, dipenuhi segala kebutuhannya, bersamaan dengan aturan-aturan yang penguasa tetapkan. Termakanlah semua.

Saat waktunya tiba, aku lihat, aku lihat! Perempuan yang semulanya cantik, kini jadi tak sempurna. Satu-persatu mereka potong bagian hidungnya, lalu telinga kiri dengan alasan agar mereka tak sering membantah. Dicongkel bola mata kanan agar mereka buta akan realitas, hingga pada wajah yang indah hanya tersisa bibir untuk menyampaikan semua kebohongan. Semua yang berpasang disisakan satu, agar mereka memandang dunia hanya dengan satu persepsi. Tatapan sayu dari sebelah mata yang uratnya menjerit, kosong. Entahlah apa itu masih berfungsi dalam membedakan banyak warna atau malah seperti binatang yang hanya mampu melihat satu warna. 

Melihat mereka di balik balutan gamis, di balik kerudung, juga di balik gerai rambut yang indah. Semuanya cacat! Bahkan sebagian wajah bopeng terenggus koreng. Belatung saja najis menggerogotinya. Burung gagak yang tak nafsu melahap raga mereka terbang memutar di atas distrik setan, hanya gemar mencium aroma kebusukan tapi tak sudi mengotori paruhnya dengan daging yang tak suci. Aku rasa tuhan juga tak sudi memasukkan mereka ke neraka paling dalam.

***

Sorot mata Ibu melahap seluruh tubuhku secara utuh ketika aku menyapanya dan mulai mengambil secentong nasi yang pertama. Aku menatap Ibu dengan ekspresi bingung, kemudian Ibu hanya menggeleng yang sama sekali tak memberi kejelasan arti tatapannya. Di meja makan sederhana dengan tiga kursi ini kami terbiasa makan bersama walau hanya makan malam yang menjadi momennya. Terkhusus pagi hari kami hanya berdua, sebab Ayah selalu pergi sebelum cahaya mentari sempat mencakar bumi. Tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama sekali tidak makan malam bersama Ayah, seingatku semua berjalan seperti biasa.

Usai menghabiskan sarapan, duduk di tepi pintu masuk menjadi rutinitasku. Jangan tanya kenapa aku tidak berangkat sekolah, Ibu memberhentikannya ketika aku kelas 2 SD kemudian tak pernah lagi  mengizinkan bermain dengan teman-teman di sekitar rumah. Membantunya mengerjakan pekerjaan rumah pun begitu. Tubuhku putih pucat dan rapuh, mungkin akibat tidak banyak gerak dan tidak pernah terkena cahaya matahari. Setiap aku memohon untuk pergi ke luar, Ibu selalu mencegah dan mengatakan bahawa itu bukan duniaku. Tida ada yang istimewa dari orang yang kesepian seperti diriku. Terkadang aku sampai tidak ingat waktu yang kuhabiskan untuk apa saja, akibat hidup yang terkurung dalam kubus yang bernama rumah.

Aku tak paham di zaman apa aku berada. Terkadang melihat Ayah pulang larut malam dengan keadaan tergesa-gesa. Jika sudah seperti ini biasanya esok hari akan ada beberapa orang yang datang kerumah untuk mencari Ayah. Padahal Ayah tidak ada. Meski aku tidak tahu betul siapa yang datang, karena Ibu selalu memintaku untuk tidak keluar kamar tapi sayup-sayup aku mendengar bahwa mereka mencari Ayah. Beberapa kali aku bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada Ayah, tapi Ibu marah karena sudah mengingatkan berapa kali bahwa itu bukan urusanku. 

Tak jarang pula mereka bertengkar setelah kedatangan orang-orang yang tak di kenal itu. Pernah suatu malam Ibu memanggul tas besar hendak lari meninggalkan rumah. Di balik tubuh yang gemetar ketakutan aku hanya berusaha mendengar pembicaraan mereka.
“Perjuangan untuk rakyat!”, satu-satunya kalimat Ayah yang paling kuingat setiap kali menahan Ibu yang hendak pergi. Perjuangan rakyat apa? Rakyat siapa? Untungnya bagi keluarga ini apa kalau aktifitas Ayah hanya membuat Ibu ingin lari. Aku benar-benar buta terhadap apa yang sedang terjadi.

***

Kembali menekur di tengah ruang kamar, menutup mata dengan kedua telapak tangan. Larut malam begini siapa yang berbisik di telingaku, berteriak, menjerit, menuntut. Peluh sedari tadi membuat bajuku lecap, butirnya sebesar biji jagung mengalir melalui dahi, pelipis, pipi, bermuara di dagu kemudian metes membasahi baju. Kenapa di sini ramai sekali, hiruk pikuk teriakan. Bagaimana kalau mereka menyentuhku. Ibu, di mana Ibuku? Tolong, mereka semua berteriak. Aku tidak ingin mati sekarang, Bu! Bukankah sudah sering kuceritan pada Ibu tentang bagaimana kematian yang kuinginkan. Jangan pernah ada yang mengirim karangan bunga ke rumah, aku hanya ingin raga yang datang dan duduk bersemayam di rumah duka.

“Pengikut PKI”

“Bajingan!”

“Penghianat negara!”

“Kemari kau biar mampus, akan kuteguk semua darahmu sebagai tanda kemenangan!”

Aku mendekap erat tubuh sendiri sehingga tak ada ruang bagi sebutir jarum untuk menyelip. Sum-sum tulang belakangku nyeri dibantai tsunami. Mimpi kau! Mimpi! Hanya mimpi kalau kau temukan ada satupun wajah cantik di sana. Di tengah distrik setan. Tak ada yang sadar! Tak ada yang berani melawan, mereka menganggap ini sebuah kebanggaan. Mereka bilang ini tahap tertinggi dari emansipasi. Nenek moyangmu! Anggota badan hanya kau jadikan bahan eksploitasi.
Kala tersadar, aku coba kabur, berlari sekuat tenaga. 

Di tengah distrik setan, terus coba mencari sebuah perkampungan. Jangan kira aku senang bisa lari! Aku lebih takut kalau-kalau aku tertangkap oleh salah satu dari mereka, matilah aku. Tidak dapat ku bayangkan, dihukum oleh mereka, kemaluanku ditusuk dengan sebilah bambu runcing hingga menembus kepala. Lalu mereka potong hidungku, kemudian mencongkel mataku, seperti yang mereka lakukan pada perempuan-perempuan sebelumku. 

Linu dalam dadaku sedikit mengurang ketika menemukan sebuah perkampungan. Aku masuk ke salah satu rumah. Seorang ibu sedang menyusui balitanya. Tenang sekali kehidupan orang ini, pikirku. Setelah nampak dengan jelas, ternyata dia temanku ketika SD. Bingung bagaimana menceritakan semuanya, kuputuskan untuk pergi. Toh, belum tentu ia peduli dengan situasi yang sedang terjadi, baginya mungkin lebih baik mengurus anak kesayangan saja. Kalau tidak, ini hanya akan membuat ibu dan balita ini menjadi resah. Tidak ada yang menjamin bahwa pelarianku aman.

Aku harus menyelamatkan semua yang terperangkap di sana. Aku menghampiri segerombolan pemuda kampung, tentu meminta bantuan. Kuceritakan semua hal terkait duduk perkara. Kemudian dengan segala rencana aku kembali ke tempat laknat dalam hutan itu. Menyelinap masuk, berusaha agar tak ada yang sadar dengan keberadaanku.

***

Hanya saat masih kecil kita sering terbangun dari tidur dengan ingatan mimpi yang indah. Bisa jadi mimpi itu datang dari dongeng yang disampaikan Ibu secara rutin setiap malam sebelum kita terlelap. Kalaupun terbangun dengan mimpi buruk, Ibu akan selalu siaga memelukmu yang masih bau masam keringat semalaman, lalu ia akan mengelus punggungmu hingga ketegangan hilang. 

Berbeda dengan pagiku, hangat yang menyerap di tubuhku tidak seperti biasanya. Tidak ada keringat berbau masam. Kepulan asap sesak memaksa memasuk melalui ventilasi di atas pintu. Panas, ini bau api. Apalagi yang sedang terjadi. Aku sudah cukup lelah. Harus bagaimana lagi aku membedakan apakah segudang hayalan dan kekhawatiran itu ingin mengajak imajinasiku kembali berkelana atau ini memang nyata. Belum cukupkah pikiranku disiksa dengan semua ini. 

Aku memeluk erat guling yang sudah tipis dan bau apek akibat tak pernah dijemur Ibu, wajahku terbenam di baliknya. Sayup-sayup terdengar suara Ayah seiring dengan dadaku yang semakin sesak oleh banyaknya asap yang masuk ke dalam paru-paru.

“Sudah! Tinggalkan saja, anak cacat tidak akan memberi manfaat! Ayo lari sebelum semakin banyak massa yang menegejarku!”.