7 Agustus 2020

Sup Ayam (Ala Pemalas)

Sesuai dengan judulnya, aku mau berbagi resep ala-ala untuk orang-orang yang mau makan enak dan sehat, tapi lagi ngga mau ribet. By the way, abaikan foto yang jauh dari aesthetic ini. Apalah arti keindahan bila tidak membuat perut kenyang 😁

Oh, ya, sup ayam ini bagus lho dikonsumsi kalau temen-temen lagi flu atau ngga enak badan. Bisa bikin tubuh lebih seger dan enakan. Hari ini aku masak sup ya karena aku sendiri lagi ngga enak badan. Baru dua hari tiba di Jogja, langsung kena flu dan batuk. Ini  dipicu sama debu, sih dan kena matahari siang bolong karena harus ke Acer service centre di daerah Ring Road Utara. Kemarin bersihin kamar yang udah ditinggal hampir lima bulan. Kebayang kan debunya setebal apa 😖

Sekian basa basinya, yuk langsung ke resep!

Bahan:
  • dua siung bawang merah
  • satu siung bawang putih
  • lada putih bubuk
  • garam
  • kaldu jamur
  • dua paha ayam
  • buncis sebanyak yang kalian mau lah pokoknya
  • brokoli, sama, sebanyak yang kalian mau lah
  • satu buah tomat
(Btw, aku masak sop pake buncis sama brokoli soalnya sayuranku adanya ya itu 🙈)

Cara Memasak:
  1. Agar waktu memasak lebih efektif dan efisien, maka yang harus dilakukan pertama kali adalah bersihkan ayamnya. Setelah bersih, ayamnya langsung direbus. Jumlah airnya dikira-kira aja. Tentu airnya dilebihin, soalnya selama direbus dan nunggu ayamnya mateng, airnya pasti nguap. Jangan lupa dikasih garam. Berapa banyak? Ya, dikira-kira lah, masak gitu aja mau dikasih tau. Dasar manja!
  2. Selagi menunggu ayam direbus, baru deh kalian kerjain bumbunya. Bawang putih dan bawang merahnya cukup di kupas aja, jangan diapa-apain, lho! Ingat, kan ini resep ala pemalas. 
  3. Buncisnya dicuci, terus dipotong-potong. Ukurannya? Suka-suka kalian lah mau gimana. Mau dimasak sepanjang-panjang itu juga gapapa. Toh, kalian sendiri yang makan.
  4. Cek ayamnya, dibolak-balik. Kalau udah mendidih, bawang merah dan putih yang utuh tadi langsung dicemplungin ke dalamnya.
  5. Selanjutnya, potong-potong brokoli. Potongnya agak kecil-kecil. Ini bukan pelit, tapi untuk make sure kalau di dalam rimbunan brokoli itu ngga ada ulat yang ngumpet. Setelah dipotong, brokoli dicuci dengan air bersih sebanyak 3 kali. Setelah itu rendam dengan air garam sekitar 3--5 menit, biar lebih bersihhhh lagi, ya kan.
  6. Inget, tomatnya juga dicuci, ya. Jangan jorok! Setelah itu dipotong dadu.
  7. Cek lagi ayamnya, kalau kira-kira udah mau mateng, bisa masukin buncisnya dulu, kemudian baru disusul sama brokoli. Kenapa buncis duluan? Ya, biar brokolinya ngga terlalu layu. Biar pas dimakan masih ada krenyes-krenyesnya. 
  8. Lalu, bisa masukan bumbu-bumbu seperti lada dan kaldu jamur. Berapa banyak? Ya, dikira-kira aja! Kaldu jamur seuprit aja, kan di kuah udah ada kaldu ayamnya. Sebelum nambahin garam lagi, cicip dulu, bair tau kurang asinnya seberapa. 
  9. Kalau udah pas, matiin deh kompornya. Terus masukin tomat dan aduk-aduk sebentar. 
  10. Selesai!

Udah, segitu aja resepnya. Insyaallah mudah, cepat, dan efisien. Soal rasa mah tergantung kalian aja gimana. Yang namanya ayam dibuat sup pokoknya ngga pernah salah. 

Um, aku bukan ahli masak-memasak ya. Jadi kalau ada yang keliru ya maap. Tulisan ini dibuat sebagai kenang-kenangan untuk diriku aja. Kalau udah tua nanti pas baca ini, "Ya, ampun. Ternyata dulu aku makan dan masak seasal-asalan itu" ehe. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. 
Aku harap kalian sehat, bahagia, dan baik-baik saja di sana 💕


24 Juli 2020

Sepucuk Surat untuk Sahabat

Sungailiat, 03 Agustus 2015


Terbungkus Rindu

Aku tidak akan pernah lupa, waktu aku terjebak pada dua pilihan yang akan membawaku kemana nantinya akan berlabuh. Dan sekarang, aku di sini. Di sebuah tempat yang jauh darimu. Entah harus kusesali atau tetap menerima pilihanku ini. Belum jauh rasanya aku meninggalkan jejak itu. Saat ini aku merasa kembali terlempar ke masa lalu, bernostalgia bersama semua kenangan yang telah berlalu.

Terkadang, dengan mudah aku dapat melupakan dirimu. Namun bukan tidak pernah bayanganmu datang kembali, kemudian meracuni segala yang ada pada pikiranku. Aku membenci keadaan ini. Keadaan yang membuatku menyesali pilihanku sebelumnya. Apapun kebiasaan yang aku lakukan selalu membawa ingatanku kembali tertuju padamu. Hanya kamu. Sekarang, apa yang bisa kulakukan? Apa aku bisa mengembalikan waktu seperti sedia kala? Jarak kita tidak dekat, namun pikiran kita tetap melekatt. Benar bukan? Ya, itu dulu.

Apa kamu masih mengingat kejadian-kejadian itu? Um, bisa jadi tidak. Ketika itu. 

Cerita kita dibungkus rapi oleh waktu. Terbungkus berarti tidak hilang. Terbungkus rapi karena kita menjalani kehidupan bersama, kita menikmati setiap detik pada pertemuan. Pertemuan kita hanya enam hari dalam satu minggu. Begitu sulit rasanya menuliskan cerita tentang bahagianya aku yang pernah melewati hari bersamamu. 

Ingat kah?
Hari pertama masuk sekolah. Kita belum saling mengenal, belum saling peduli. Waktu memulai semuanya. Aku duduk tepat dibarisan nomor dua dari belakang. Dan kau duduk tepat di belakangku. Kemudian keakraban mulai terasa. Saling bercerita, tertawa, mengeluh, mengejek teman kelas. Terima kasih untuk waktu-waktu di hari itu.

Masih ingat dengan pasangan **** dan ***** yang duduk tepat di sebelah kananmu? :) 
Karena insiden mereka, aku yang harus dipindahkan oleh guru Agama untuk duduk bersama **** agar pasangan itu tidak sibuk sendiri saat pelajaran. Kemudian skenarionya jadi berubah. Seiring waktu, aku juga berteman akrab dengan ****. Dan kamu menjauh. Jam-jam pelajaran yang dulu dilewati bercanda denganmu, justru berganti dengan ****.

Aku tidak pernah lupa dengan sindiran halus yang kamu sampaikan saat kita berbincang singkat. Aku juga tidak pernha lupa dengan hari itu, saat pelajaran telah usai dan kelas kita mendapat giliran salat zuhur berjamaah. Ketika sedang membereskan alat tulisku, kamu memberikan secarik kertas kecil padaku, kemudian kamu pergi begitu saja.


Salam rindu buatmu di sana
walaupun kau jauh di mata

Ya, itu dari lirik lagu.
Degub jantungku bekerja lebih cepat setelah membaca isi secarik kertas itu. Saat berpapasan di musala pun kita hanya saling memandang. Sejak saat itu, kertas itu kusimpan. Namun sekarang surat itu memang telah hilang bersama kamu yang juga menghilang ditelan oleh waktu.



Untuk kamu, sahabatku,

EP.








____________________________________________________________________


Um 😌

Tadi aku sengaja membongkar buku-buku SMA untuk mencari buku paket Biologi yang dibutuhkan temanku. Kemudian iseng membuka binder corat-coretku ketika SMA, kemudian ketemulah surat itu. Yap. Surat itu ditulis olehku di tahun 2015, untuk sahabatku saat SMP. Sedikit ingatanku, saat menulis surat itu sepertinya aku memang sedang sedih dan merasa kosong. Aku menyadari, bahwa aku bukan penjaga hubungan yang baik. Setelah lulus SMP pun aku tidak menjaga komunikasi dengan teman-temanku. Padahal teknologi sudah cukup canggih dan saat SMP tentu kami sudah aktif di media sosial. 

Aku merasa kosong karena ketika itu belum berhasil menemukan sosok teman yang sama persis dengan teman-teman dekatku ketika SMP. Entahlah, di tempat baru itu semuanya terasa berbeda. Menurut pandanganku, semua orang seperti mengenakan topeng. 

Jangan bilang suratku lebay ya, hahaha. Aku tau, penulisannya pun tidak teratur. Ya, maklum lah saat itu maish, ya, gitu deh (padahal sekrang juga kalau nulis masih sering ngga beraturan 🙈). Aku cuma mau mengenang dan mengabadikan. Agar tidak hilang, makanya kutulis di sini.

By the way, setelah kejadian secarik surat itu, kami malah jadi canggung satu sama lain. Setelah rasa canggung itu membuat pertemanan kami jadi semakin renggang, asumsiku saat itu jangan-jangan karena kami saling punya perasaan yang lebih, tapi sama-sama pura-pura bego, naif. Sebenernya jijik bilang gini. Kesannya aku yang terlalu percaya diri ya, HAHAHAHA 😆 Tapi gimana, emang dulu gitu. Kita memperlakukan satu sama lain itu beda dengan cara kita memperlakukan temen-temen kelas yang lain. 

Nah, udah ngerasa betapa ngga enaknya kehilangan sahabat, setelah itu aku jadi selalu ngingetin ke diri sendiri, jangan sampai kejadian yang sama terulang lagi. Alhasil, ketika kenaikan kelas dan bertemu dengan teman-teman kelas yang baru, aku jadi berusaha untuk bersikap biasa aja ke temen-temen deket yang lawan jenis.Trauma rasanya kehilangan sahabat cuma karena cinta-cinta monyet yang nggak jelas.

Terus, aku ngga pernah naksir orang dong selama sekolah?
Oh, tentu pernah dong 😁
Tapi aku pinter-pinter bego, suka sama orang tuh jarang, tapi kalau udah suka, hilangnya lama. Dulu dua tahun sekelas sama crush, dan senengnya karena kami punya hubungan yang cukup baiklah sebagai temen (sering adu nilai pas ulangan. Kalau bimbel kadang duduk berdua. Pokoknya bikin belajarku jadi semangat. WKWK, Lha kok malah kebablasan 😅) Tapi semuanya disimpan rapat-rapat, jadi sampai lulus orangnya ngga tau. Bahkan sampai aku udah lulus SMA, aku belum ngelupain si crush. Sampai sekarang kadang masih suka nanyain dia ke temen-temen lama.


Udah deh, sekian. Terima kasih untuk yang sudah membaca tulisan yang ngga ada faedahnya ini, isinya cuma curhatan masa SMP, HAHA.


9 Juli 2020

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya! --Rusdi Mathari

Sumber: Dokumen Pribadi

Judul: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya!
Penulis: Rusdi Mathari
Penerbit: Buku Mojok
September, 2016

Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co. Sejak kali pertama tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa Mojok.co.

___________________________________________________________________________________________


Buku yang uapikkk dan 'ngena' dibaca di nuansa ramadan begini. Isinya dekat sekali dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Hubungan antar manusia. Ceritanya juga ringan. Tapi sungguh sarat makna. Ketika baca buku ini rasanya kepalaku seperti diketok, "Itu lho! Selama ini kamu ngga pernah peduli. Pura-pura buta dan tuli dengan apa yang ada disekitarmu". Benar-benar banyak hal sederhana—dlm keseharian terutama sikap, perilaku, dan hubungan antar manusia, yang rasanya baru membuat mataku melek. 
Ini salah satu buku yang sering kubaca ulang perbagiannya—kalau lagi pengen hehe. Buku religius yang sangat religius.


Judulnya emang ngga salah. Kita seringkali merasa pintar, paling benar, padahal bodoh saja kita tak punya.


Cerita ku dengan buku ini:
Ia kutamatkan pada 2018. Benar-benar waktu dan tempat yang sangat berharga. Seingatku hari itu bersama teman-teman HMPS 2018/2019, survey lokasi untuk proker Kurban&Baksos. Dari pagi kami berangkat, keliling-keliling ke plosok desa²—tapi aku lupa di daerah GK atau Kulon Progo atau mana. Waktu udah mau sore, bokong udah pegel kelamaan diatas motor. Akhirnya menjelang sore  Mba Ucik ngajak ke rumahnya—Mba terbaekkk hehe. Rumahnya jauuuuuh btw hahaha. 

Magrib datang, kami masih diperjalanan. Akhirnya kami mampir buka puasa di warung kecil. Sekadar minum dan makan gorengan. Singkat cerita sampailah di rumah Mba Ucik. Kami disuguhi makan berat—senangnya haha, dan basa-basi dengan keluarganya. Selesai salat magrib, akhirnya temen-temen tarawih di desa itu. Aku lupa jg apa nama desanya.


Mau ceritain gambaran desanya sedikit, menurut pandangan ku ya. Desanya lumayan masuk ke dalem², hawanya masih seger, dingin, bukan desa yang sudah terang-benderang. Masih nemuin sapi di sekitar rmh warganya. Suasana begini ngga ada di kampungku sendiri, makanya seneng hehe. .


Okay, karena aku lg datang bulan. Aku duduk sendirian di depan mushola. Sambil nunggu temen-temen yang lagi tarawih, aku baca buku ini.


Suasana, isi cerita, suara imam yg memimpin tarawih, ah. Rasanya aku masuk ke dalam cerita dan menyaksikan sendiri Cak Dlahom berdialog juga dengan tingkah lakunya. Sulit menjelaskan rasanya dengan kata. Hehe

8 Juli 2020

Norwegian Wood--Haruki Murakami

Sumber: Dokumen Pribadi
Judul: Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan ketigabelas, Januari 2020
Sipnosis:
"Kebenaran seperti apa pun, tidak mungkin bisa menyembuhkan kepediahn seseorang yang ditinggal mati kekasihnya. Kebenaran seperti apa pun, ketulusan seperti apa pun, kekuatan seperti apa pun, kelembutan seperti apa pun, tidak bisa menyembuhkan kepedihan itu. Kita hanya bisa merasakan kepedihan itu sedalam-dalamnya, dan dari situ kita mempelajari sesuatu dan sesuatu yang kita pelajari itu pun menjadi percuma di saat kita menghadapi kesedihan yang sekonyong-konyong muncul. 

KETIKA IA MENDENGAR "Norwegian Wood" karya The Beatles, Toru Watanabe terkenang Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir dua puluh tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

__________________________________________________________________________________________


Yap. Judulnya diambil dari salah satu lagu The Beatles, Norwegian Wood. Novel ini kuhabiskan selama beberapa hari, dan selama beberapa hari itu rasa pedih dan hampa ikut meresap ke dalam pikiranku. Saat bangun pagi untuk makan sahur, kepala nyut-nyutan krn terbayang kelanjutan deritanya.


Sulit sekali rasanya menjadi Watanabe yang terjebak di masa lalu. Setengah jiwanya terbawa oleh kematian sahabatnya—Kizuki dan setengahnya lagi terbawa oleh kematian kekasih alm. sahabatnya yang juga merupakan gadis cinta pertamanya—Naoko.


Novel ini menceritakan Watanabe yang terlempar kembali pada masa-masa kuliahnya di Tokyo. Kehidupan remaja dengan berbagai karakter tokoh pendukung yang masing-masing memiliki konflik yg juga rumit. Kematian, ya kematian. Beberapa tokoh memilih untuk mengakhiri konfliknya dengan kematian. Rasanya memang tidak lepas dari budaya harakiri Jepang.


Ndak usahlah ya kutuliskan bagaimana ceritanya. Aku cuma mau berbagi pengalaman pertama kali membaca karya Murakami. Seperti biasa saat membaca novel yg selalu menarik perhatianku adalah penokohannya. Watanabe yg ku kenal adalah seorang pendengar yg sedikit bicara, meskipun banyak hal yang berputar di kepalanya. Rasa-rasanya bagaimana cara ia merespon cerita org lain—padahal ia bingung bagaimana harus meresponnya, ingin kuterapkan juga. Sedikit bicara tapi orang yg dekat dengannya tetap senang bercerita. Entahlah, menurutku warna dalam diri Watanabe gelap sekali. 
Begitupula Midori. Hei Midori, I ♡ your 'wierd' characters. Bisakah aku seperti Midori, punya keberanian untuk menyampaikan perasaannya pada Watanabe, meskipun tau bahwa Watanabe tidak pernah lepas dari bayang-bayang perempuan yang menurutnya istri orang itu— ≧∇≦
Gamau ah, takut huhu~


Oh ya, rasa hampa pada jiwa Watanabe mengingatkanku dengan tokoh utama di novel Darah Muda. Rasanya senang dengan penceritaan dengan sudut pandang tokoh laki-laki. Ada berbagai jenis emosi yang rasanya baru terjamah olehku.


Kebenaran seperti apapun, tidak mungkin bisa menyembuhkan kepedihan seseorang yang ditinggal mati kekasihnya—Toru Watanabe.


(Based on my point of view)


Yay, nanti mau coba baca karya Murakami yang lainnya 🌼

6 Juli 2020

Ambivert - Arhsy Mentari

Sumber: Dokumen Pribadi


Judul: Ambivert
Penulis: Arshy Mentari
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan kedua, April 2020.
Sipnosis:
Anak bertumbuh menjadi remaja kemudian dewasa dan menua. Begitu banyak peran yang dijalankannyadalam kehidupan. Membuatnya menjalani dua wajah atau lebih yang tidak jarang serupa dua arah berlawanan bahkan bagai dua persimpangan yang menarik ulur hatinya. Pengalaman membuatnya selalu terkikis, terukir, terjungkir. Hingga tak jarang ia memilih unutk menjalani keseharian dengan kepura-puraan.

Tokoh aku, seorang anak perempuan dari golongan masyarakat umum, mengalami dilema itu. Dilema yang bisa jadi mewakili kisah anak perempuan lainnya di sekitar kita yang sedang mencari jati dirinya. Bagaimana pola asuh, hingga persahabatan, penghianatan, dan asmara, seolah membuatnya terpaksa mengenakan berbagai persona. Topeng-topeng yang terbentuk tanpa sengaja. Topeng-topeng yang ingin dilepaskannya tanpa tersisa untuk menemukan jati diri. 

________________________________________________________________________________________________________________

Buku ini tiba bersama tiga buku lain. 
Berhari-hari selama menunggu mereka tiba, aku ngebatin, "Ambivet akan jd yg pertama kubaca!". Potongan kalimat di buku ini sempat diunggah oleh penerbitnya. Setelah membaca itu, aku jadi punya ekspektasi tinggi tentang buku ini.


Oh ya. Ini bukan review, hanya berbagi pengalaman saat membaca. .

Lalu, apakah ekspektasiku terbayar?
Jawabannya adalah, ya. Hanya pada lima halaman pertama. .

Nanti ku jelaskan. Kita bahas dulu bagian-bagian buku ini. Secara garis besar ada tiga bagian yaitu, (1) Ia dan Mereka berisik, (2) Tentang Kita, (3) Menjadi Diri Sendiri.

Lima halaman pertama di bagian ini sangat ajaib untukku. Penulis merangkum perasaan senang yang tidak bisa saya jelaskan saat pindah. Ini pengalaman pertamaku menangis saat membaca buku, padahal baru di halaman ke tiga. .

Pada sub Lingkaran Kecil — siapa kuartikan sbg keluarga, penulis bercertia sedikit tentang masa kecilnya.
Si Diam. "Tidak banyak hal detail yang bisa dipindahkan. Kalimat ini diambil pada saat memori selesai. Ingatan yg muncul tentang masa kecil itu adalah, "Tanganmu itu tangan perusak!", Terus bersama beberapa masa lalu yg bertubi-tubi memenuhi kepala.

Kemudian, Anak Tengah.
Bagian yg cukup pedih. Memberi pengalaman aku sebagai pembicara seperti sedang berdialog menyurahkan isi hati dengan sebuah buku. Apa kamu tau rasanya terasingkan tanpa ada seorangpun yang menarik kamu dari keterasingan itu? Tidak ada yang mengenalmu. "Jadilah tangguh dan bukan tiang untuk kau sanggah", pesan yang ku garis bawahi pada bagian ini.

Udah, segini aja hehe.
Lima halaman pertama itu seperti klimaks.
Aku menikmati bagian satu, dan sedikit menikmati pada bagian tiga. Aku membaca bagian dua hanya sbg disetujui, krn rasanya tidak baik berlalu begitu saja. Bukan berarti tidak bagus, hanya tidak relevan untukku. Bagian yang membahas tentang balada hubungan. Aku belum sampai pada kehidupan 'romantis' itu.

"Setiap org punya teras, ruang tamu, dan kamar. Masing-masing tuan rumahlah yang menentukan siapa yang boleh dan tidak, kpn dan luas kebolehannya". 

Secara keseluruahan, buku ini tentang perjalanan yang membawa kita pada berbagai fase kehidupan. Pengalaman dan pelajaran membuat kita harus memainkan banyak peran dengan berbagai topeng. Meskipun itu bukan topeng yang ingin kita kenakan. .

Dari sudut pandang seorang perempuan sebagai tokoh utama.

Nilai 7,5 / 10.