6 Juli 2020

Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! -- Kalis Mardiasih


Sumber: Dokumen Pribadi
Judul: Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!
Penulis: Kalis Mardiasih
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan Pertama, Oktober 2019.
Sipnosis:
Setiap kali mendengar suara azan yang dilantunkan oleh suara sepuh terbata-bata, melihat bangunan madrasah Islam tradisional dengan keriaan anal-anak, atau sesederhana melihat papan nama masjid di perkampungan, saya sering merasa bahwa Islam telah cukup. --Islam yang Cukup

Kalis Mardiasih merisaukan fenomena beragama yang di tangan sebagian kalangan begitu eksklusif dan menyeramkan. Baginya, beragama seharusnya menyenangkan, dipenuhi kebaikan. Tidak sesak oleh amarah atau hasrat penaklukan.
Kebaikan-kebaikan itu ia temukan dalam praktik keberagamaan yang sederhana. Ia berbicara dengan orang-orang bersahaja, menyaksikan cara mereka mengamalkan kesalehan, dan menemukan Islam yang teduh di sana. Dalam dirinya, Islam tumbuh bersama dengan kegembiraan.

_________________________________________________________________________________________________________________

Buku yang dibeli sekitar akhir tahun 2019 akhirnya selesai dibaca. Setelah melihat penulisnya udah nerbitin buku lagi sekitar Maret/April lalu. Lalu ngebatin, "Astaga. Udah nerbitin buku lagi, padahal yang dibeli kemarin belum kubaca ≧ ω ≦"

Ini bukan review gaes, tapi senang ingin bercerita tentang pengalaman yang disajikan kompilasi menyelami isi buku ini.

Buku ini ringan dan renyah. Lagi dan lagi, dekat sekali dengan keseharian. Sesuai dengan pernyataan Mba Kalis sendiri yang menyatakan bahwa ia bukan pengarang yang mengusung tema Islam secara khusus. Tulisan-tulisannya didasari oleh pengalaman, baik yang dialaminya sendiri atau orang-orang yang terlibatnya. "Setiap pengalaman mestinya sah sebagai realitas keberagaman ..."

Buku ini membawa kesadaran tentang manusia tidak ada kata untuk berhenti belajar, mengenal hal-hal baru, dan mengakui keberagaman. Tidak menghargai satu hal Hanya dari satu sudut pandang. Mba Kalis menggambarkan pengalamannya yang juga pernah menjadi orang yang mudah "menghakimi perbedaan". Setelah lebih mengenal keberagaman dan buku, ia berhasil melepaskan kebiasaan tsb. Jangan pernah berhenti belajar dan selalu menambah wawasan tentang salah satu kuncinya🔑
—saya perlu usaha yang cukup keras untuk melepaskan dirimu dari belenggu hitam-putih, sampai sekarang masih berusaha.

Kemarin kompilasi Mba Kalis salah satu cuitan selebgram dan tanggapannya ditanggapi lagi oleh nitijen. Melihat santainya respon Mba Kalis, saya jadi bertanya dalam hati, "Kok Mba Kalis ini bisa tetap nongkrong ya ngadepin orang² yg jaka sembung .....". Akhirnya menjawab saya dapat di sub bab terakhir di buku ini — Pengalaman Saya "Menikmati" Bully di Media Sosial.
Sebelum sampai pada "Menikmati", tentu saja ada beberapa fase yang harus dilewatinya.

Sedikit pesan Gus Dur yang saya kutip dari buku ini, "Jika memang melakukan kesalahan, harus belajar untuk rela meminta maaf", ikuti dengan mudahnya yang terkenal, "Melarang ideologi dan bahaslah sia-sia dan itu tidak mungkin dilakukan".

Judulnya emang ngga salah. Hijrah jangan jauh-jauh, nanti nyasar! Nyasar ke mana? Baca aja sendiri bukunya. Barangkali dapat pengalaman yang berbeda ^^ ♡

PASAR LAMA


Sumber: Dokumen pribadi
Jaffron
Sumber: Dokumen pribadi

 

Jaffron, binatang yang perangainya menjelma  iblis dan malaikat. Tidak perlu bertanya, binatang ini tak memiliki nama ilmiah. 
Pulau ini dikenal dengan kualitas timahnya yang sangat baik. Tambang timah seperti mata pisau. Tapi bukan ini yang akan kuceritakan. Kota kecil di bagian barat pulau ini, pencaharian masyarakatnya selain melaut, sama seperti yang dilakulan orang-orang di zaman peradaban kuno dan masih bertahan hingga sekarang, bercocok tanam.


Penghasilan yang diperoleh baik dari laut maupun darat, semuaya diperjualbelikan di pasar Gebong. Pasar sebagai salah satu pemutar roda ekonomi. Apalagi pentingnya kalau bukan untuk mengisi perut!  Segala bentuk perkembangan sosial dalam masyarakat bisa ditemukan di pasar. Apalagi pasar Gebong, tidak perlu televisi untuk mengetahui kabar dari sebrang pulau. Para nelayan ketika membawa ikan kepada pengepul, merekalah yang menyampaikan berita buruk dan baik. Kemudian menyebar secepat kilat ke seantero pasar.


Semakin pasar Gebong berkembang, semakin lalailah mereka. Beberapa lupa perannya sebagai manusia. Sepanjang malam para lelaki berpesta tuak! Gebong menjadi pasar 24 jam! Sementara istri-istri mereka di rumah mengupas ketela sambil cemas berdebar membayangkan suami mereka pulang dengan membawa perempuan muda. Mereka juga gemar menghisap darah saudaranya sendiri. Para kelompok pengepul seringkali bersekongkol melakukan permainan harga. Jual-beli barang haram mulai marak.


Sebelum berhasil pemilik modal menguasai pasar, Jaffron bangun dan keluar dari sungai Jero. Sungai besar yang terletak tepat disebelah pasar. Selain karena geram dengan kegiatan orang-orang di pasar Gebong, ia bangun karena sungai tempat tinggalnya telah menguning akibat orang-orang pasar membuang sampah dan tai seenaknya.


"Kalian telah menjelma pembunuh!" maki Jaffron, sebelum  memporak-porandakan pasar Gebong.


Sebelum melanjutkan cerita yg tak populer ini, aku ingin memberi tahu bahwa gambar ini dibuat oleh orang-orang pasar generasi selanjutnya untuk mengenang Jaffron sebagai sejarah di masa lalu. Siapa yang menggambarnya? Entahlah aku hanya memotret.


Sumber: Dokumen pribadi
Sungai Jero
Sumber: Dokumen pribadi 


Penampakan Sungai Jero, tempat di mana Jaffron berasal. Padahal Jaffron tau, menginjak tempat tinggal manusia sama dengan mengunjungi neraka dunia. Lalu mau bagaimana lagi, binatang saja tak punya hasrat untuk tinggal di tempat yang kotor.


Hari itu merupakan peristiwa yang tidak terlupakan bagi orang-orang selanjutnya yang hidup di Pasar Gebong. Pembantaian paling ganas yang pernah terjadi di muka bumi. Namun, semacam jadi kesenangan bagi burung pemakan bangkai dan linta penghisap darah.


Manusia-manusia telah menerima pembalasan setimpal atas perbuatan mereka. Tak lantas membuat Jaffron puas. Setelah kejadian berdarah di Pasar Gebong, Jaffron meninggalkan daerah itu, sebab ia tau bahwa Sungai Jero tak akan kembali seperti sedia kala. "Dasar manusia! Jangankan masih hidup, sudah mati pun tetap meninggalkan bencana" umpatnya sebelum melesap dalam perjalanannya mengelilingi dunia.


Berdasarkan kabar burung yang beredar, kini Jaffron telah diberi titah oleh para dewa untuk menjaga danau tertua dan terdalam. Jaffron berhasil membuat danau yang terletak di Siberia tersebut menjadi danau terbersih di dunia!


Danau Baykal.


Sumber: Dokumen pribadi
Pasar Gebong
Sumber: Dokumen pribadi 


Bukan hanya karena peristiwa berdarah di masa lalu yang menjadi penyebab pasar Gebong hanya tinggal cerita. Laut pulau ini menjadi lintasan perdagangan dan tempat persinggahan bagi para pelancong. Beginilah nasib daerah kepulauan. Seiring waktu, maka masuknya berbagai kebudayaan tidak dapat dihindari. Awalnya orang-orang membangun rumah bertingkat hanya untuk menjadikannya kamar tidur. Lantai bawah dijadikan dapur, ruang berkumpul, dan tempat penyimpanan barang. Hari ini rumah bertingkat dijadikan sebagai simbol kekayaan harta.
 

Kerusakan yang berawal dari Sungai Jero kini merambat ke darat, laut, bahkan hingga cakrawala. Bangunan-bangunan dibangun tinggi menjulang menutupi langit. Menara bangunan-bangunan itu menghembuskan asap-asap hitam ke udara. Kata mereka, itu bagian dari proses pengelolahan hasil tambang. Jika penghuni pulau ini ingin sejahtera, maka inilah yang harus dilakukan. Lubang-lubang raksasa digali sedalam-dalamnya. Memperkosa bumi adalah hobi baru manusia di zaman ini. Menulis cerita ini sebenarnya juga membingungkan. Standar sejahtera siapa yang harusnya diterapkan pada kehidupan masyarakat pulau? Apakah standar mereka, orang-orang yang bahkan lebih maju dari pada zaman itu?


Sudah cukuplah meratapi akhir dari cerita ini. Pasar Gebong yang memutar roda ekonomi, kini sudah tak lagi pada porosnya. Modernisasi turut mengambil peran dalam menjadikan pasar ini tinggal cerita. Sekarang mereka punya pasar baru, tapi hanya pemilik kantong tebal yang bisa ke sana.


Puing-puing bangunan ini menjadi saksi bisu bahwa sesungguhnya setiap masyarakat memiliki standar mereka sendiri tentang sejahtera. Tak setinggi milik para pengejar zaman. 


Bencana. Bencana. Bencana bertubi-tubi.

6 Juni 2020

6 April 2020

LAUT BERCERITA (BUKAN NOVEL LEILA S. CHUDORI)

Saya rasa banyak hal yg tidak diajarkan, juga banyaknya larangan. Saya tumbuh dan berlayar pada penangkaran ikan ikan laut. Tenggelam karena ketidakpahaman dan melewati masa tercabik luka. Saksi luka tak meninggalkan darah, sebab bersih disapu air laut.

Waktu demi waktu, saya memahami nada gerak air dalam lautan.
Melihat ke atas, ada dunia dan kehidupan yang begitu luas di sana. Melihat lebih dalam, ada begitu banyak keindahan yang belum mampu saya jamah. Hidup pada batas penangkaran tak lantas membentuk seorang penurut.

Pura-pura menurut, iya.

Salah kah memelihara ego?
Dipikir mudahkah meluluhkan hati yg telah membentuk sendiri arahnya selama bertahun-tahun?

Saya sampai bingung, tujuan hidup ini apa? (ya, tentu saja karena begitu banyak larangan). Kadang bertanya-tanya, sesungguhnya saya ini hidup pada zaman apa.

Setelah berjalan terseok, senantiasa memendam protes, tangis, dan amarah seorang diri, lalu tiba-tiba Cahaya itu datang dengan kilaunya, "Apa-apaan seperti itu?!"

Hai, Cahaya. Harusnya saya yang bertanya, "Apa yg kau lakukan?!". Kau memang menyinari, tapi kau bahkan tidak pernah mengenali siapa Saya.

Oh, ya. Tentang larangan. Rasanya, semakin ia menggunung maka semakin besar hasrat saya untuk segera bisa berdiri di atas kaki sendiri.


4 November 2019

Buluh Sedarah


Selamat Membaca  ^^
(Sila meninggalkan saran dan kritik di kolom komentar)

Sumber: Google

Buluh Sedarah

           Konon katanya pulau kami ini dijaga oleh naga yang sedang tidur panjang, mengelilingi pulau ini seperti cincin. Di bagian Selatan kami hidup bersama orang-orang dari suku Hakka yang pindah dari Guangdong. Kedatangan mereka lebih awal dari orang-orang ras kami, untuk merasakan hidup lebih baik. sejak tiga abad silam kami bersama ras mata sipit itu dengan sepenuh hati memajukan pulau ini.
            Kau tau, sekarang sedang berselimut duka karena kabar kepala kampung kami yang tiba-tiba mati. Bulak bagai muntah tiada henti keluar dari sungut orang-orang suku Lom, menciptakan berbagai cerita tentang mayat kepala kampung yang dibawa pulang oleh sekumpulan krasalong. Bukan hanya itu, kepala suku dipulangkan tidak lengkap dengan hatinya. Apakah ada seseorang yang memberi perintah kepada  mereka? Tapi bukannya mereka itu tuli?
            “Jang, Bujang. Pergilah antar kepala suku ke kubor. Jangan lupa malam datang takziah ke rumah duka” sore itu Mak mengingatkan Bujang yang sibuk menyanyam dulang permintaan Miak. Sudah pasti ia tidak akan pergi sebelum menyelesaikan tugas dari Miak dan tidak mungkin juga mengingkari permintaan Mak. Semua masyarakat lokal sangat menjunjung tinggi adat kebudayaan nenek moyang mereka. Tidak ada satupun ritual peninggalan nenek moyang yang mereka tinggalkan.
            Sudah terhitung satu minggu sejak kematian tragis kepala kampung, kampung ini jadi sepi dari aktivitas malam. Semua penduduk percaya bahwa arwah kepala kampung masih berkeliaran disekitar, kecuali Miak. Heran juga ia dengan Mak yang setiap hari sembahyang menyembah Tuhan tapi masih takut dengan setan. Ia sendiri mana sudi percaya pada hal tidak masuk akal seperti itu. Menurutnya, setelah menempuh kematian maka orang-orang itu akan hidup jauh lebih merdeka di alam pikirnya masing-masing.
***
            “Mak, buatkanlah acara kecil-kecilan untuk merayakan pernikahanku dan Bujang. Tidak usah membuat perayaan yang berlebihan karena kita tidak punya banyak uang,” dandang berisi sayur darat yang baru matang terhempas dari tangan Mak. "Bagaimana bisa kau meminta pernikahan dengan Adik kandungmu sendiri. Haram jadah! Semakin hari kudaimkan kau semakin menjadi! Menciderai leluhur!” suara Mak bergetar memenuhi bubung atap. Hal yang paling ditakutkan oleh Mak terjadi. Mana ada satu keyakinanpun yang memperizinkan saudara kandung menjalin pernikahan. “Kacau… kacau! Ini akan menjadi awal dari kehancurkan kampung kita semua!” keluh mak dengan dada yang sesak, entah dari mana Miak mendapat perangai demikian. Pahit, hitam sudah rasanya hati Mak mendapati anak perempuannya meminta keputusan demikian.
            “Aku tidak ingin menjadi perawan tua dan tidak mau menikah dengan pemuda kampung ini. Semua orang di sini sama saja, suka menelan mentah sebuah tahayul. Hanya Bujang yang sesekali sejalan dengan apa yang kupikirkan” usahanya tak henti untuk meyakinkan Mak. Tanpa perlu menunggu hari berlalu, kabar permintaan Miak untuk menikahi Bujang telah tersebar ke penjuru kampung. Siapa gerangan yang membawa berita ini? Apakah ulah krasalong lagi? Tidak masuk akal burung tuli mampu menyebarkan pesan aib kepada seluruh penjuru kampung.
            “Pergi!”
            “Usir!”
            “Pendosa!”
             “Pelanggar nilai-nilai luhur!”
            “Usir mereka dari kampung ini!” teriakan penduduk kampung sebelum magrib menjelang. Mak menangis sampai tak bersuara akibat ulah kedua anaknya. “Dengan siapa lagi aku hidup jika tidak dengan kalian” pasrah Mak dalam sakit hatinya.
            Bukan lagi urusan tentang siapa benar dan siapa salah, tapi tentang keinginan siapa yang paling besar. Miak keluar bersama Bujang, dengan kepala tegak ia mengucap lantang pada seluruh penduduk yang mengusirnya, “Manusia hati kalian hitam! Kita hidup rukun berhimpun tiada salah sikap dan patah sekalipun dariku, hanya perihal kawin kalian menempatkanku seperti orang paling berdosa. Apa kalian para penyembah batu lebih mulia derajatnya! Hiduplah kalian semua dengan pertanyaan-pertanyaan yang busuk mengakar dalam pikiran. Tidak ada rembug dalam pikrian maka tiada merdeka kalian selama-lamaya!”
***
            Kau tahu? Setelah kepergian Miak dan Bujang, kehidupan di kampung berjalan tidak serukun sedia kala. Belakangan banyak warga yang melapor ayam peliharaan mereka mati secara tragis bahkan ada yang menghilang tanpa bekas, bukan dalam jumlah yang sedikit. Simpang siur kabar burung datang lagi bahwa pelaku dibalik mati dan hilangnya hewan ternak adalah perbuatan orang-orang suku Lom. Mereka menganggap orang-orang itu hidupnya mulai terancam karena alam tidak mampu lagi menyediakan sumber kehidupan. Kurang ajar sekali memiliki anggapan demikian padahal ku tanyakan padamu, siapa sesungguhnya yang mengkhianati alam!
            “Mati… Mati… Dewi, anak perempuanku, mati” datang berita kematian.
            “Mati… Mati… Anakku, Adi, mati” datang lagi berita kematian.
            “Mati… Mati… Ibuku, mati” datang terus berita kematian. Kini sedekat itu ajal dengan penduduk kampung. Hal ini semakin membuat seluruh penduduk yakin bahwasannya dua pasang saudara itu benar-benar menjadi penyebab kesialan bertubi pada kampung ini.
            Orang-orang itu mati karena berjalan mengikuti angin arah Barat. Apa yang sesungguhnya membawa mereka berjalan ke arah sana. Apakah itu akses pintas neraka yang diciptakan tuhan untuk bumi?
            Aku di sini memang hidup dengan pikiran yang telah mati. Aku menelan sumpah Miak ketika ia bernajak pergi. Kuikuti penduduk yang berjalan ke arah Barat pulau ini. Lagi-lagi kabar dari krasalong. Burung tuli yang selalu membawa kabar tanpa kejelasan kebenaran. Seorang penduduk merasa menerima perintah dari mimpinya yang berupa seruan untuk pergi menyusuri arah Barat, di sana banyak harta kekayaan yang akan membawa kampung ini keluar dari kesengsaraan.
            Dalam di tengah hutan Barat pulau, aku lihat, itu dia! Miak pemberi sumpah. Ia bersetubuh dengan buluh dan Bujang mengkiat semua sumpah serta serapahnya. Dada Miak bersimbah darah karena bulu halus buluh yang tajam. “kau tau Bujang, bair buluh ini menjadi penembus bumi yang mengakarkan ideologi. Biar kumakan setiap hari hati manusia untuk menyatukan kebusukan dalam darah dagingku. Biar turut mengakar pada alam. Biar orang-orang yang datang mati dibunuh oleh rasa penasarannya sendiri! Atas segala sumpahku, tanah ini adalah kampung Senang Hati, lalu biarkan darah kita tertanam bersama akar buluh, biar kita menjadi penjanga tanah ini.”
            Alam lebih menerimanya. Pesan terakhir yang Miak ucapkan padaku, “Terima kasih atas segala tugas dan pengabdian darimu” usai sudah. Sekarang, biarkan aku pergi terbang mencari kabar-kabar berita baru. Aku memang tuli, tapi hatiku belum mati. Dan kau, tanggung jawabmu meneruskan cerita ini kepada seluruh manusia dipenjuru bumi!






Note: Alhamdulillah cerpen ini menjadi jaura ketiga pada lomba cipta cerpen Bulan Bahasa dan Sastra tingkat Universitas yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2019.