6 Juni 2020
6 April 2020
LAUT BERCERITA (BUKAN NOVEL LEILA S. CHUDORI)
Saya rasa banyak hal yg tidak
diajarkan, juga banyaknya larangan. Saya tumbuh dan berlayar pada penangkaran
ikan ikan laut. Tenggelam karena ketidakpahaman dan melewati masa tercabik
luka. Saksi luka tak meninggalkan darah, sebab bersih disapu air laut.
Waktu demi waktu, saya memahami nada
gerak air dalam lautan.
Melihat ke atas, ada dunia dan kehidupan yang begitu luas di sana. Melihat lebih dalam, ada begitu banyak keindahan yang belum mampu saya jamah. Hidup pada batas penangkaran tak lantas membentuk seorang penurut.
Melihat ke atas, ada dunia dan kehidupan yang begitu luas di sana. Melihat lebih dalam, ada begitu banyak keindahan yang belum mampu saya jamah. Hidup pada batas penangkaran tak lantas membentuk seorang penurut.
Pura-pura menurut, iya.
Salah kah memelihara ego?
Dipikir mudahkah meluluhkan hati yg
telah membentuk sendiri arahnya selama bertahun-tahun?
Saya sampai bingung, tujuan hidup ini
apa? (ya, tentu saja karena begitu banyak larangan). Kadang bertanya-tanya,
sesungguhnya saya ini hidup pada zaman apa.
Setelah berjalan terseok, senantiasa
memendam protes, tangis, dan amarah seorang diri, lalu tiba-tiba Cahaya itu
datang dengan kilaunya, "Apa-apaan seperti itu?!"
Hai, Cahaya. Harusnya saya yang
bertanya, "Apa yg kau lakukan?!". Kau memang menyinari, tapi kau
bahkan tidak pernah mengenali siapa Saya.
Oh, ya. Tentang larangan. Rasanya,
semakin ia menggunung maka semakin besar hasrat saya untuk segera bisa berdiri
di atas kaki sendiri.
4 November 2019
Buluh Sedarah
Selamat Membaca ^^
(Sila meninggalkan saran dan kritik di kolom komentar)
Buluh Sedarah
Konon
katanya pulau kami ini dijaga oleh naga yang sedang tidur panjang, mengelilingi
pulau ini seperti cincin. Di bagian Selatan kami hidup bersama orang-orang dari
suku Hakka yang pindah dari Guangdong. Kedatangan mereka lebih awal dari
orang-orang ras kami, untuk merasakan hidup lebih baik. sejak tiga abad silam
kami bersama ras mata sipit itu dengan sepenuh hati memajukan pulau ini.
Kau
tau, sekarang sedang berselimut duka karena kabar kepala kampung kami yang tiba-tiba
mati. Bulak bagai muntah tiada henti keluar dari sungut orang-orang suku Lom,
menciptakan berbagai cerita tentang mayat kepala kampung yang dibawa pulang
oleh sekumpulan krasalong. Bukan hanya itu, kepala suku dipulangkan tidak
lengkap dengan hatinya. Apakah ada seseorang yang memberi perintah kepada mereka? Tapi bukannya mereka itu tuli?
“Jang,
Bujang. Pergilah antar kepala suku ke kubor. Jangan lupa malam datang takziah
ke rumah duka” sore itu Mak mengingatkan Bujang yang sibuk menyanyam dulang
permintaan Miak. Sudah pasti ia tidak akan pergi sebelum menyelesaikan tugas
dari Miak dan tidak mungkin juga mengingkari permintaan Mak. Semua masyarakat
lokal sangat menjunjung tinggi adat kebudayaan nenek moyang mereka. Tidak ada
satupun ritual peninggalan nenek moyang yang mereka tinggalkan.
Sudah
terhitung satu minggu sejak kematian tragis kepala kampung, kampung ini jadi
sepi dari aktivitas malam. Semua penduduk percaya bahwa arwah kepala kampung
masih berkeliaran disekitar, kecuali Miak. Heran juga ia dengan Mak yang setiap
hari sembahyang menyembah Tuhan tapi masih takut dengan setan. Ia sendiri mana
sudi percaya pada hal tidak masuk akal seperti itu. Menurutnya, setelah
menempuh kematian maka orang-orang itu akan hidup jauh lebih merdeka di alam
pikirnya masing-masing.
***
“Mak,
buatkanlah acara kecil-kecilan untuk merayakan pernikahanku dan Bujang. Tidak
usah membuat perayaan yang berlebihan karena kita tidak punya banyak uang,”
dandang berisi sayur darat yang baru matang terhempas dari tangan Mak.
"Bagaimana bisa kau meminta pernikahan dengan Adik kandungmu sendiri.
Haram jadah! Semakin hari kudaimkan kau semakin menjadi! Menciderai leluhur!” suara
Mak bergetar memenuhi bubung atap. Hal yang paling ditakutkan oleh Mak terjadi.
Mana ada satu keyakinanpun yang memperizinkan saudara kandung menjalin
pernikahan. “Kacau… kacau! Ini akan menjadi awal dari kehancurkan kampung kita
semua!” keluh mak dengan dada yang sesak, entah dari mana Miak mendapat
perangai demikian. Pahit, hitam sudah rasanya hati Mak mendapati anak
perempuannya meminta keputusan demikian.
“Aku
tidak ingin menjadi perawan tua dan tidak mau menikah dengan pemuda kampung ini.
Semua orang di sini sama saja, suka menelan mentah sebuah tahayul. Hanya Bujang
yang sesekali sejalan dengan apa yang kupikirkan” usahanya tak henti untuk
meyakinkan Mak. Tanpa perlu menunggu hari berlalu, kabar permintaan Miak untuk
menikahi Bujang telah tersebar ke penjuru kampung. Siapa gerangan yang membawa
berita ini? Apakah ulah krasalong lagi? Tidak masuk akal burung tuli mampu
menyebarkan pesan aib kepada seluruh penjuru kampung.
“Pergi!”
“Usir!”
“Pendosa!”
“Pelanggar nilai-nilai luhur!”
“Usir
mereka dari kampung ini!” teriakan penduduk kampung sebelum magrib menjelang.
Mak menangis sampai tak bersuara akibat ulah kedua anaknya. “Dengan siapa lagi
aku hidup jika tidak dengan kalian” pasrah Mak dalam sakit hatinya.
Bukan
lagi urusan tentang siapa benar dan siapa salah, tapi tentang keinginan siapa
yang paling besar. Miak keluar bersama Bujang, dengan kepala tegak ia mengucap
lantang pada seluruh penduduk yang mengusirnya, “Manusia hati kalian hitam! Kita
hidup rukun berhimpun tiada salah sikap dan patah sekalipun dariku, hanya
perihal kawin kalian menempatkanku seperti orang paling berdosa. Apa kalian
para penyembah batu lebih mulia derajatnya! Hiduplah kalian semua dengan
pertanyaan-pertanyaan yang busuk mengakar dalam pikiran. Tidak ada rembug dalam
pikrian maka tiada merdeka kalian selama-lamaya!”
***
Kau
tahu? Setelah kepergian Miak dan Bujang, kehidupan di kampung berjalan tidak serukun
sedia kala. Belakangan banyak warga yang melapor ayam peliharaan mereka mati
secara tragis bahkan ada yang menghilang tanpa bekas, bukan dalam jumlah yang
sedikit. Simpang siur kabar burung datang lagi bahwa pelaku dibalik mati dan
hilangnya hewan ternak adalah perbuatan orang-orang suku Lom. Mereka menganggap
orang-orang itu hidupnya mulai terancam karena alam tidak mampu lagi
menyediakan sumber kehidupan. Kurang ajar sekali memiliki anggapan demikian
padahal ku tanyakan padamu, siapa sesungguhnya yang mengkhianati alam!
“Mati…
Mati… Dewi, anak perempuanku, mati” datang berita kematian.
“Mati…
Mati… Anakku, Adi, mati” datang lagi berita kematian.
“Mati…
Mati… Ibuku, mati” datang terus berita kematian. Kini sedekat itu ajal dengan
penduduk kampung. Hal ini semakin membuat seluruh penduduk yakin bahwasannya
dua pasang saudara itu benar-benar menjadi penyebab kesialan bertubi pada
kampung ini.
Orang-orang
itu mati karena berjalan mengikuti angin arah Barat. Apa yang sesungguhnya
membawa mereka berjalan ke arah sana. Apakah itu akses pintas neraka yang
diciptakan tuhan untuk bumi?
Aku
di sini memang hidup dengan pikiran yang telah mati. Aku menelan sumpah Miak
ketika ia bernajak pergi. Kuikuti penduduk yang berjalan ke arah Barat pulau
ini. Lagi-lagi kabar dari krasalong. Burung tuli yang selalu membawa kabar
tanpa kejelasan kebenaran. Seorang penduduk merasa menerima perintah dari
mimpinya yang berupa seruan untuk pergi menyusuri arah Barat, di sana banyak
harta kekayaan yang akan membawa kampung ini keluar dari kesengsaraan.
Dalam
di tengah hutan Barat pulau, aku lihat, itu dia! Miak pemberi sumpah. Ia
bersetubuh dengan buluh dan Bujang mengkiat semua sumpah serta serapahnya. Dada
Miak bersimbah darah karena bulu halus buluh yang tajam. “kau tau Bujang, bair buluh
ini menjadi penembus bumi yang mengakarkan ideologi. Biar kumakan setiap hari
hati manusia untuk menyatukan kebusukan dalam darah dagingku. Biar turut
mengakar pada alam. Biar orang-orang yang datang mati dibunuh oleh rasa
penasarannya sendiri! Atas segala sumpahku, tanah ini adalah kampung Senang
Hati, lalu biarkan darah kita tertanam bersama akar buluh, biar kita menjadi
penjanga tanah ini.”
Alam
lebih menerimanya. Pesan terakhir yang Miak ucapkan padaku, “Terima kasih atas
segala tugas dan pengabdian darimu” usai sudah. Sekarang, biarkan aku pergi
terbang mencari kabar-kabar berita baru. Aku memang tuli, tapi hatiku belum
mati. Dan kau, tanggung jawabmu meneruskan cerita ini kepada seluruh manusia
dipenjuru bumi!
Note: Alhamdulillah cerpen ini menjadi jaura ketiga pada lomba cipta cerpen Bulan Bahasa dan Sastra tingkat Universitas yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2019.
12 Maret 2019
ANALISIS UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI "YANG FANA ADALAH WAKTU-SAPARDI DJOKO DAMONO"
YANG FANA ADALAH WAKTU- SAPARDI DJOKO DAMONO
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982
Analisis Puisi
A.
UNSUR
FISIK PUISI
1.
Diksi
Diksi atau
pilihan kata yang digunakan pada puisi Yang Fana adalah Waktu adalah
penggunaan
kata konkrit. Kosa kata yang digunakan ialah kosa kata keseharian yang sudah ada dan tidak mmunculkan makna yang baru
2.
Imaji
Pada bait “memungut
detik demi detik,merangkainya seperti bunga”, memunculkan imaji
visualisasi. Bait tersebut membuaut pembaca seolah melihat secara langsung
bagaimana detik waktu dipungut dan dirangkai seperti sebuah rangkaian bunga.
3.
Rima
Pada setiap
akhir sajak diakhiri oleh bunyi vokal i, u, a, sebagai bunyi yang lembut. Maka
membuat puisi ini tergolong puisi kamar. Memiliki jenis rima berpeluk.
4.
Tipografi
Penulisan
menggunakan rata kiri seperti gaya penulisan pada umumnya.
5.
Gaya
bahasa
a)
“memungut
detik demi detik, merangkainya seperti bunga”, merupakan majas simbolik. Detik yang dipungut dan dirangkai
seperti bunga sebagai simbol dari waktu-waktu sepanjang hidup hingga membentuk
sebuah rangkaian kehidupan yang telah kita lalui.
b)
“kita
abadi”, merupakan majas totem pro parte
yang mengungkapkan kita sebagai keseluruhan objek, padahal yang di maksud
adalah jiwa.
c)
“detik
demi detik”, sebagai majas
aliterasi yang mengulang konsonan D di awal setiap kata secara berurutan.
d)
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi, penggunaan majas asindetrton. Bait kita abadi diungkapkan
tanpa menggunkan kata penghubung dari bait sebelumnya.
e)
“Yang
fana adalah waktu. Kita abadi”, merupakan
sebuah ungkapan paradoks.
6.
Kata
konkrit
a)
Fana,
melambangkan sesuatu yang bersifat sementara dan tidak bersifat
kekal. Pada puisi yang dimaksud ialah waktu.
b)
Abadi, pilihan kata yang mewakili sesuatu yang bersifat kekal dan
selamanya.
c) Memungut
detik demi detik, merangkainya
seperti bunga, pada bait ini dapat dibayangkan oleh pembaca melalui imaji.
Tentang waktu yang telah kita lalui, seolah dapat dirangkai menjadi sebuah
skenario kehidupan yang telah kita jalani selama ini.
B.
UNSUR
BATIN PUISI
1.
Tema
Puisi Yang
Fana adalah Waktu memiliki membawa tema ketuhanan. Setiap bait yang
diungkapkan berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan.
2.
Rasa
Pokok permasalahan
yang diangkat oleh pengarang ialah tentang kehidupan manusia yang tak selamanya
abadi. Tapi sesungguhnya yang abadi adalah jiwa-jiwa manusia itu sendiri.
3.
Nada
Penyair
menyampaikan tema dan rasa dengan cara menceritakan sebuah kejadian yang telah
lalu. Selain itu, melalui bait pertama pengarang menyampaikan sebuah
pernyataan. Pengarang menyerahkan begitu saja kepada pembaca untuk mencari
makna tersurat dari bait puisinya.
4.
Amanat
Amanat yang
terkadung dalam puisi ini disampaikan pengarang secara tersirat atau secara
tidak langsung. Pembaca dibebaskan untuk mencari dan menginterpretasikan
sendiri. Berdasarkan tema dan rasa yang telah disampaikan, puisi ini memberi
pesan tentang kehidupan manusia di dunia. Secara eksplisit kita paham bahwa
semua manusia kelak akan meninggal, sementara waktu terus berjalan. Tetapi,
sesungguhnya yang abadi itu bukanlah waktu, melainkan jiwa manusia itu sendiri.
Jiwa yang akan menempuh kehiudupan setelah kehidupan di dunia. Pada kehiupan
inilah manusia akan hidup kekal dan abadi selamanya. Berikut dalil yang juga
menjelaskan hal ini:
يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Artinya:
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan
(sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal (Q.S Al-Mu’min,
ayat:39)
Tafsir Ayat
Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kenikmatan
sesaat bagi manusia, kemudian setelah itu terputus habis, maka janganlah kalian
condong kepadanya. Sesungguhnya alam akhirat dengan segala kenikmatannya yang
langgeng adalah tempat tinggal di mana kalian akan menetap selamanya di sana.
Maka hendaklah kalian mendahulukannya dan beramal untuknya dengan amal-amal
shalih yang membuat kalian berbahagia di sana.
10 Maret 2019
TEORI FEMINIS ROSMARIE TONG DALAM NOVEL LOVE IN THE KINGDOM OF OIL KARYA NAWAL EL-SAADAWI
Membicarakan gerakan feminis atau perihal
seputar perempuan merupakan suatu pembahasan yang menarik. Menurut Kamla Bahsin
dan Nighat Said Khan, feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan
pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat di tempat kerja dan keluarga
serta tindakan sadar untuk mengubah keadaan tersebut. Hal ini memang tidak ada
habisnya diperbicangkan, karena secara historis posisi perempuan seringnya
dirugikan. Dulu perempuan tidak memperoleh haknya dengan sesuai. Seperti
kedudukan sebagaimana yang sewajarnya diberikan sesuai dengan tugas dan
fungsinya yang besar dalam kehidupan.
Menurut prediksi beberapa ilmuan, penderitaan
perempauan sudah mulai sejak 200 tahun Sebelum Masehi. Perempuan di tempatkan
pada derajat yang sangat rendah dan hidup di bawah keganasan laki-laki. Bahkan
tidak ada batasan bagi suami dalam memperlakukan istrinya. Sebagian Yahudi
membolehkan seorang bapak untuk menjual anak perempuannya. Di Jazirah Arab,
kelahiran anak perempuan adalah sesuatu yang memalukan bahkan dianggap sebagai
kutukan. Sementara di Mesir dan Persia, perempuan dianggap sebagai alat pemuas
nafsu laki-laki dan diperlakukan dengan sadis.
Novel Love In The Kingdom Of Oil menggambarkan
keterkaitan antara perempuan dengan sejarah Mesir pra-Islam. Pada masa ini
perempuan di posisikan sebagai imperior yang harus selalu tunduk atas perintah
laki-laki, sementara laki-laki bertindak sebagai superior yang bebas
memerlakukan perempuan sesuai kehendak mereka. Cerita pada novel ini juga memberikan
gambaran mengenai empat teori feminis yang dibagi oleh Rosmarie Tong.
Feminisme liberal, latar belakang kemunculannya
adalah perlakuan yang menempatkan perempuan bergantung di bawah laki-laki dalam
bidang ekonomi serta kekangan bagi perempuan untuk bekerja dan menaikan derajat
dalam bidanng ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Penyamarataan hak dalam
beberapa bidang tersebut yang diperjuangkan oleh feminisme liberal.
“Ya.
Biasanya seorang perempuan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah
itu tidak waras.” (Hlm. 8)
“Seorang perempuan muda menceburkan diri ke
dalam pekerjaan yang tidak ada ujung pangkalnya seperti mengumpulkan patung.
Bukankah itu gejala pemyakit atau bahkan perbuatan yang tidak wajar?” (Hlm.8)
Pada hari
berikutnya keluar titah raja yang melarang perempuan meninggalkan rumah dan,
jika ada perempuan meninggalkan rumah, terlarang memberikan tempat berteduh
kepadanya atau menyembunyikannya. (Hlm. 11)
Kepala departemen
memandangnya dengan mata terbelalak, “Bagian ini hanya menerima laki-laki.
Pekerjaan yang kami lakukan, maksudku, menggali tanah, tidak cocok untukmu”. (Hlm. 35)
“Setiap
perempuan yang tertangkap dengan kertas dan pena dalam genggamannya akan
dihukum.” (Hlm. 81-82)
“Apa
katamu,’Politik’?Apa kau tak tahu terlarang bagi kaum perempuan menceburkan
diri dalam politik?” (Hlm. 179)
Pada halaman awal digambarkan secara nyata bahwa
perempuan yang bekerja dianggap suatu hal yang tabu dan tidak wajar. Nawal menyampaikan
satir bahwa pada zaman ini perempuan diposisikan di bawah laki-laki dalam segala
aspek kehidupan. Penguasa ikut serta turun tangan dalam mengambil langkah
terhadap perempuan yang bekerja di luar
rumah. Perempuan dianggap lemah dan tidak mampu melakukan pekerjaan yang
dilakukan oleh laki-laki. Perempuan hanya bekerja untuk memuaskan nafsu dan
melayani laki-laki, seperti pembantu rumah tangga yang tidak dibayar.
Ketakutan
besar juga muncul ketika perempuan mulai memiliki pendidikan. Perempuan yang mulai
membaca, menulis dan memiliki banyak pengetahuan akan dikecam karena dianggap
sebagai tekanan besar. Karena itu membaca dilakukan secara sembunyi-sembunyi
saat suaminya tertidur pulas. Dengan ilmu pengetahuan, dapat membuat perempuan
sadar dan memberontak atas ketidakadilan yang selama ini terima. Maka adanya
pergerakan yang menuntut kesamarataan antara perempuan dan laki-laki dalam
bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya untuk menghapus anggapan
yang menekan posisi perempuan dari dalam aspek kehidupan.
Feminisme radikal, menganggap bahwa perempuan
ada pada penindasan paling bawah. Disebut radikal karena anggapan bahwa
kemampuan reproduksi pada perempaun adalah kutukan. Revolusi terhadap kelas ini
berarti revolusi terhadap seks. Kaum ini memperjuangkan anti pornografi yang
dianggap sebagai simbol penindasan laki-laki terhadap perempuan.
“Mengapa
kau tidak menutup wajahmu dengan cadar? Apakah kau tidak punya malu?” (Hlm.
24)
Perempuan harus menunggu suaminya hilang
selama tujuh tahun, ia tidak boleh kawin dengan laki-laki lain. Janin tetap
hidup dalam rahimnya selama tujuh tahun, dan janin itu tetap milik lelaki yang
hilang itu sampai ia kembali. Perempuan tidak lebih dari wadah. Tidak ada
undang-undang tentang perempuan yang hilang. Seorang perempuan tidak harus
hilang supaya suaminya dapat kawin lagi dengan perempuan lain. (Hlm. 107)
Masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan hanya
sebagai objek seksual. Laki-laki bebas berganti pasangan dalam berhubungan
seksual, sementara perempuan posisinya tetap berada di bawah kendali laki-laki.
Bahkan sama sekali tidak memiliki hak atas tubuhnya. Saat ini banyak terjadi
kasus pelecehan seksual yang menimpa perempuan. Anehnya sesudah menjadi korban,
perempuan kembali disalahkan. Alasan yang sering digunakan ialah kesalahan
perempuan yang tidak menutup aurat. Padahal faktanya yang sudah berpakaian
sopan juga kerap menedapat tindakan pelecehan seksual. Harus dipahami bahwa
yang salah bukan pakaian yang dikenakan, tapi pikiran yang harus diluruskan.
Bagaimanapun setiap orang memiliki hak atas tubuhnya masing-masing.
Feminisme marxist, meyakini bahwa keadaan
sosial ditentukan secara sadar. Sehingga secara sadar dapat diubah. Secara politik
perempuan memiliki kekuasaan dalam menetukan kehidupan, tetapi terampas oleh
budaya patriarki.
Lelaki
itu memaksa perempuan itu berlutut seperti seekor unta. Lelaki itu memilin
selembar kain bekas, kemudian dijadikannya bantalan bulat dan diletakannya di
atas kepala perempuan itu. Kemudian ia mengangkap tempayam itu dengan kedua
tangannya dan meletakkannya di atas kepala perempuan itu. Leher perempuan itu
bengkok karena menahan beban itu. (Hlm. 48)
Perusahaan. Apa itu perusahaan? Siapa pemilik
perusahaan ini? Berapa mereka membayar setiap hari untuk tempayam-tempayam ini?
Apakah lelaki mendapat upah? Sejak perempuan itu datang, perempuan itu tidak
mendapat apa-apa. Ia tidak pernah memegang uang. (Hlm. 71)
Asumsinya ialah sumber penindasan perempuan
berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Penguasa memiliki kemampuan
untuk menjaga kesejahteraan, namun nyatanya penguasa yang bersifat kapitalis
menggunakan perbudakan kaum perempuan sebagai pekerja.
Feminis psikoanalitik, berangkat dari
pernyataan Sigmund Freud yang menyatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang
tidak lengkap. Keadaan ini membuat perempuan iri karena tidak memiliki penis
seperti laki-laki, bahkan hal ini disebut sebagai suatu penyakit. Menurut
analisis mengatakan bahwa, kebutuhan dasar setiap manusia adalah seksualitas.
Maka perempuan dianggap tidak memiliki sesuatu untuk dimainkan, sebagaimana
penis yang dimiliki oleh laki-laki.
“Sebagai
ganti keinginannya yang tidak terpuaskan, perempuan itu mendapat nikmat dari
menusuk-nusukkan pahat ke dalam tanah seolah-olah pahat itu penis laki-laki.” (Hlm.
8)
“Sejak kecil, perempuan mencari penis tetapi
sia-sia. Ketika sudah putus asa karena tidak berhasil menemukannya, keinginan
ini berubah menjadi keinginan yang lain.” (Hlm. 9)
Feminis psikoanalitik menolak teori Freud.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanyalah bahwa perempuan haid,
mengandung, melahirkan, dan menyusui, selebihnya tidak ada yang membedakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

