28 Maret 2022

Kita Tidak Butuh yang Satu Frekuensi

 Memelihara Ingatan Lewat Lagu Hati-Hati di Jalan.


Ketika Hati-Hati di Jalan dirilis, saya baru turun dari Gunung Andong. Pukul 22.00 WIB, saya baru selesai mandi dan bisa istirahat. Sebelum tidur, saya menyempatkan diri melihat beberapa judul di album Manusia itu. Pilihan pertama jatuh pada Hati-Hati di Jalan. Saya memutarnya, lalu memejamkan mata. Niat awal yang hanya untuk pengantar tidur menjadi urung setelah mendengar lirik demi liriknya. Lagu itu saya replay berkali-kali sampai akhirnya saya terlelap. 

 

Bukan relasi asmara yang muncul di benak saat mendengar lagu itu. Saya justru teringat teman dekat yang sudah hampir 12 tahun lamanya kami berteman. Baru benar-benar akrab mungkin di tahun ke-5. Di tahun-tahun itu, kami sering berbicara tentang bagaimana cara kami berelasi dengan orang lain dan tentang kebingungan dengan karakter masing-masing. Di titik ini kami merasa bahwa kami memiliki kesamaan. Mungkin ini yang membuat kami bisa berteman baik.

 

Saya sebutkan beberapa hal saja, seingat saya: kami tidak suka hal yang menye-menye dan banyak berbasa-basi dengan orang lain. Sulit untuk dekat dan percaya dengan orang lain, sering memiliki asumsi tersendiri tentang orang lain. Pertanyaan yang sering muncul adalah ‘kenapa saya begini?’. Tahun-tahun di usia yang belum matang (sekarang juga belum sih, haha), pikiran hanya berpusat pada diri sendiri. Jelas, banyak kesamaan tentang apa yang kami pikirkan. 

 

Memasuki pertengahan masa kuliah. Meskipun beda kampus dan beda kota, kami masih sama-sama ada di Pulau Jawa. Masih bisa sering bertemu. Seiring bertambahnya usia, bertambah hal yang diketahui tentang kehidupan. Banyak pengalaman yang dilalui, pikiran pelan-pelan ikut berkembang. Pola pikir mulai berubah. Dulu hanya membahas tentang diri sendiri, sekarang obrolan sudah cukup beragam dan meluas. Kami juga pernah menyadari dan merefleksi hal ini, ternyata banyak sekali yang bisa dibicarakan selain tentang diri sendiri. 

 

Lalu, kenapa Hati-Hati di Jalan? Saya tidak akan membahas liriknya secara keseluruhan. Hanya beberapa potongan saja. Kok bisa, sepatah dua patah lirik dan irama Tulus itu membawa saya pada memori yang luas? Saya juga heran. Magis sekali.

 

Kita tidak asing dengan pernyataan, “mau cari teman yang satu frekuensi”, “enak kalau satu frekuensi bisa nyambung”. Saya pun dulu mengamini pernyataan ini. 

 

Namun,

“ku kira kita akan bersama

begitu banyak yang sama

latarmu dan latarku”

 

Hati-Hati di Jalan mematahkan pikiran saya tentang “berteman dengan orang yang satu frekuensi”. Tidak. Kita tidak butuh teman yang selalu satu frekuensi. Yang berlatar belakang sama pun belum tentu akan berujung di satu muara. Pernyataan ini saya tulis atas dasar realitas yang telah saya lalui dengan seorang teman. Merasakan proses kami sama-sama berkembang dan masing-masing memiliki perbedaan sudut pandang tentang banyak hal. Manusia tidak harus seragam agar bisa dijadikan teman.


Kami sama-sama suka makan, tetapi selera kami berbeda. Dia senang jajan yang manis, cake dan sejenisnya. Sementara saya senang makanan berat yang asin, pedas. Selera musik juga berbeda. Seingat saya, yang kami sama-sama (sangat) suka hanya Nosstress. Kadang, saya punya kehendak untuk berjalan terlalu jauh, manusia ini yang menarik dan menjadi pagar untuk saya (dalam artian yang positif). Pada hal-hal prinsip pun, kami berbeda.

 

Dari berbagai perbedaan itu, kamu tahu apa yang paling menyenangkan? Ketika kalimat, “people changes” terucap. Momen ini sering kami tertawakan bersama. Meskipun begitu, di titik ini saya merasa pikiran kami melebur. Hal lain yang ingin saya katakan adalah kami berhasil membangun relasi yang intim. Ada peran dan ruang-ruang kosong yang di sana kami bisa saling mengisinya untuk satu sama lain. Saya sebut satu peran yang cukup terlihat jelas. Di beberapa keadaan, peran saya lebih dominan untuk hal-hal terkait kekuatan fisik. Sementara, teman saya lebih dominan untuk memperkuat psikis. Sederhananya, saya bisa tetap waras sampai hari ini salah satunya karena ada manusia ini.


“kau melanjutkan perjalananmu

ku melanjutkan perjalananku”


Dekat dan akrab tidak melulu harus selalu bergandengan. Kita bisa tetap dekat dan akrab meski berjalan di jalan masing-masing. 


Terakhir. Kalau pun kamu memiliki kriteria untuk mengizinkan orang lain berteman atau membangun relasi denganmu, kriterianya hanya satu: manusia. Manusia yang memanusiakan manusia. Ini pernyataan lama yang sudah sering kita dengar. Tapi begitulah kenyataannya. Kita butuh bertemu orang dengan karakter demikian, satu saja sudah cukup. Kenapa? Menenangkan.



Note:

Ini ditulis tanpa persetujuan teman yang bersangkutan. Murni apa yang saya pikirkan. Kalau ada bagian yang kamu tidak setuju, silakan saja protes. Buat tulisanmu sendiri, xixi.

 

Salam.


***


Lirik utuh Hati-Hati di Jalan - Tulus 


Perjalanan membawamu

Bertemu denganku, ku bertemu kamu

Sepertimu yang kucari

Konon aku juga s'perti yang kaucari


Kukira kita asam dan garam

Dan kita bertemu di belanga

Kisah yang ternyata tak seindah itu


Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira ini 'kan mudah

Kau, aku jadi kita


Kasih sayangmu membekas

Redam kini sudah pijar istimewa

Entah apa maksud dunia

Tentang ujung cerita, kita tak bersama


Semoga rindu ini menghilang

Konon katanya waktu sembuhkan

Akan adakah lagi yang sepertimu?


Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira ini 'kan mudah

Kau, aku jadi kita


Kau melanjutkan perjalananmu

Ku melanjutkan perjalananku

Uh-uh, hu-uh-uh


Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala

Kukira ini 'kan mudah

Kau, aku jadi kita

Kukira kita akan bersama


Hati-hati di jalan

28 Januari 2022

Dunia dan Semesta Kali - Puthut EA

 


Pertama kali melihat Dunia Kali di Kedai JBS, 2018. Saat itu saya menjadi peserta di sebuah acara yang pembicaranya adalah penulis favorit saya, Dea Anugrah. Asumsi saya tentang buku ini adalah tentang anak kecil yang begitu cerewet dan dunianya, mengingatkan pada adik saya yang usianya hanya beberapa tahun di atas Kali. Namun, niat membelikannya buku ini saya urungkan. Uang saya tidak cukup karena sudah membeli buku lain. 17 Januari 2022 lalu, Mas Puthut membagikan kedua e-book ini secara gratis di https://www.puthutea.com/, saya langsung mengunduhnya.


Seperti yang disampaikan oleh penulis, cerita-cerita ini untuk mengabadikan proses tumbuh kembang Kali. Tidak jarang saya cengengesan sendiri saat membaca. Salah satu bagian yang membuat saya tertawa ngakak ketika Kali menyusul Bapaknya yang sedang salat Jumat di masjid. “Bapak, nasinya gak habis enggak apa-apa, ya. Tapi tempenya tak habisin”, ucap Kali yang memakai celana pendek, kaos, dan menggenggam tempe goreng. Bapaknya yang berposisi di tengah langsung pucat, wakakak


Saya juga menyerap ilmu parenting yang diterapkan penulis. Menjadi orang tua sekaligus teman. Tugas orang tua bukan sekadar menyekolahkan di tempat terbaik, memberikan makanan bergizi, dan mempersiapkan tabungan buat pendidikan di masa depan. Banyak yang lupa tugas penting lain, yaitu memberikan kenangan indah ketika mereka masih kecil.Hati saya ikut terenyuh mengetahui bagaimana orang tuanya mengapresiasi hal-hal kecil yang dicapai Kali. Ikut meleleh juga membaca beberapa cerita yang menunjukkan kelembutan hati Kali. 


Cerita-cerita ringan ini menghibur, sedikit menyayat. Dunia anak adalah dunia bermain, hal yang luput dipahami oleh banyak orang tua. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, buku ini mengingatkan pada adik saya yang  usianya hanya beberapa tahun di atas Kali. Saya kasihan kepada bocah itu. Meski, mungkin, ia tidak perlu dikasihani, hanya perlu ditemani bermain. Di masa tumbuh kembang dan usia emasnya, kami tidak tinggal bersama. Di bayangan saya, separuh dunia kanak-kanaknya mungkin sudah remuk. 


Jika saya pulang, banyak hal yang diceritakannya. Dari yang menyenangkan sampai yang tidak, lebih banyak yang tidak, sih. Sebagai orang yang dipercaya menjadi pendengar, harusnya saya bisa memberi respon yang menenangkan dan menjadi orang dewasa yang baik. Alih-alih demikian, emosi saya justru seringkali tiba-tiba naik. Ketika sudah tidak bersama, saya menyesali kegagalan menjadi sosok yang baik untuknya.


Pertanyaannya sudah berganti, bukan lagi kenapa tidak bisa pulang. “Kenapa kok, tidak mau pulang?”, ucapnya ketika saya tiba di rumah, setelah satu tahun tidak lebih. 


“Kenapa cepat sekali? Di sini saja dulu. Aku tidak ada teman bermain. Apa tidak kasihan?”, protesnya saat tau keberadaan saya hanya satu minggu. 


“Lha, temanmu di kampung ini kan banyak?”, tanya saya.


“Orang-orang sudah tidak mau main di luar. Semuanya sudah punya HP, cuma saya yang tidak punya”. Dada saya sedikit sesak mendengarnya. 


Sudah, ah. Kan, keterusan, malah menceritakan cerita saya.

 

 


14 Desember 2021

Seni Mencintai - Erich Fromm


Hajat saya membaca buku ini adalah untuk mencari dan memahami apa itu cinta. Belum puas memahami relasi love-relationship-seks. Meski tak acuh, kadang pernah terpikir, sepertinya hidup ini butuh teman. Sebelum sampai kesana, saya harus paham tetek bengeknya.

Paradoks dalam cinta: dua insan menjadi satu, tetapi tetap dua.
Cinta yang dewasa adalah penyatuan dan menjaga keutuhan diri, individualitas diri. Cinta menghilangkan rasa asing dan terpisah antara manusia dengan sesamanya. Namun, tetap membiarkan kita menjadi diri sendiri, mempertahankan keutuhan diri. Cinta berarti peduli bahwa insan harus tumbuh dan berkembang sebagai pribadinya sendiri. Noted.

Jika cinta berusaha untuk mengubah, memaksakan menjadi sesuatu yang jelas bukan dirimu, is it still called love?
Lebih universal, jika cinta hanya diberikan untuk satu orang, lalu menjadikannya tidak peduli dengan orang lain, maka itu bukalah cinta. Hanya keterikatan simbiotik, atau egotisme meluas.
"Cinta adalah tindakan. Jika aku mencintai, aku berada dalam keadaan peduli secara aktif kepada orang yang kucintai, tetapi bukan hanya kepadanya".

Teringat penggalan lirik milik grup musik indie kecintaan saya, "Bagilah cinta yang banyak, maka benar kau manusia kuat".

Catatan penting:
Jangan memulai cinta yang berawal dari ketertarikan secara seksual (2018:79). Intimasi dulu, baru seks! Tindakan seksual tanpa cinta tidak akan pernah menjembatani jarak antara dua manusia, kecuali sementara saja.

Temuan di buku ini yang membuat saya kembali berpikir: cinta keibuan.
Cinta keibuan adalah cinta tanpa syarat. Ujian terbesarnya menanggung perpisahan—bahkan tetap mencintai setelah perpisahan itu.

Dalam cinta erotis, dua orang terpisah menjadi satu. Sementara, cinta keibuan, dua orang bersatu lalu memisah. Dalam konteks anak yang berada dalam kandungan sampai ia tumbuh dan keluar dari rahim ibu, dari dada ibu; hingga akhirnya menjadi manusia mandiri sepenuhnya.

Saya membayangkan betapa sulitnya mencintai dalam keadaan keterpisahan—setelah anak berkembang dan mandiri. Cinta ibu dan anak adalah bentuk cinta yang tidak setara, salah satu pembeda antara cinta keibuan dengan cinta yang lainnya, mungkin.

Beberapa kutipan dari buku:

Cinta kekanak-kanakan menganut prinsip, "Aku mencintaimu karena aku dicintai"
Cinta yang dewasa menganut prinsip, "Aku dicintai karena aku mencintai"
Cinta tidak dewasa berkata, "Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu"
Cinta yang dewasa berkata, "Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu"
-
Cinta bukan tempat beristirahat. Cinta bergerak, bertumbuh, dan bekerja bersama. Cinta membawa kita menyatu dengan pasangan dengan jalan menyatu dengan diri sendiri, bukan lari dari diri sendiri. 
-
Cinta keibuan adalah cinta tanpa syarat
Ibu mencintai bayi yang baru lahir karena dia adalah anaknya, bukan karena anak itu memenuhi syarat-syarat apapun, atau memenuhi harapan-harapan tertentu.
-
Cinta kebapakan adalah cinta bersyarat
Dalam kodrat cinta kebapakan, kepatuhan adalah kebijakan utama, sedangkan ketidakpatuhan merupakan dosa utama. Prinsipnya, "Aku mencintaimu karena kau memenuhi harapanku, kau melaksanakan kewajibanmu, karena kau mirip aku".
-
Jenis gangguan neuritik dalam cinta, diakibatkan oleh situasi orang tua yang berbeda. Seperti tidak mencintai satu sama lain, tapi menahan untuk tidak menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan. Keterasingan ini menyebabkan hilangnya spontanitas dalam hubungannya dengan anak.

Yang dirasakan gadis kecil adalah atmosfir "kesempurnaan", tapi atmosfir yang tidak pernah mengizinkan kontak akrab dengan ayah maupun ibu. Hal ini menjadikan anak perempuan bingung dan takut. Dia tidak yakin dengan yang orang tuanya rasakan. Selalu ada unsur tak terpahami dan misterius. Akibatnya, anak perempuan menarik diri dalam dunianya sendiri, melamun, asing, dan tetap bersikap seperti itu dalam hubungan cintanya saat dewasa. 


Tulisan ini pernah diunggah di: https://www.instagram.com/p/CXYAiVThG03hZC1K6McQruiUs_DwviEVixOczM0/

19 November 2021

Gungung Kembang dan Babinya yang Membuat Jatuh Cinta


Ini pendakian beberapa bulan yang lalu. Tulisan ini akan berisi cerita dan estimasi biaya yang dikeluarkan untuk pendakian Gunung Kembang.  

Pendakian ini dilatarbelakangi oleh alasan yang agak berguna daripada biasanyaDalam rangka menemani saudara seiman dan seperjuangan saya, siapa lagi kalau bukan Astri Juniarti, untuk melakukan riset prapenelitian. Dia perlu mengetahui jenis tumbuhan paku yang tumbuh di sepanjang jalur pendakian Gunung Kembang. Itu tujuannya. Tujuan saya, tentu saja untuk menikmati rasa lelah di jalur pendakian dan menikmati sensasi masak di hutan/gunung. Sampai di puncak, itu urusan lain. Beda kepentingan, namun tetap satu tujuan. 

Saya berangkat dari Yogyakarta menuju Wonosobo siang hari. Kalau tidak salah, sekitar pukul 13:00 WIB. Saudara seiman dan seperjuangan saya tiba lebih dulu di tempat kami janjian untuk bertemu, Rest Area Tambi. Di sana, kami istirahat sebentar, nyambi ngopi cantik sejenak. Kurang dari pukul 17:00 WIB, kami melanjutkan perjalanan karena harus mencari klinik untuk membuat surat sehat yang menjadi salah satu syarat pendakian. Biaya pembuatan surat sehat di klinik atau puskesmas sekitar Rp30.000,00--Rp35.000,00. 

Dari Rest Area Tambi menuju ke Basecamp Blembem tidak bisa dikatakan dekat. Saat azan Isya', kami pun sempat berhenti di warung bakso untuk makan malam. Cuaca di Wonosobo tidak berbeda, tetap dingin seperti biasanya. Kami sengaja datang malam hari karena memang merencanakan untuk bermalam di basecamp dan pendakian akan dilakukan pagi hari. Menginap di basecamp tentu tidak dikenakan biaya. Penjaga basecamp juga ramah dan baik!



Sekadar informasi, kami menyewa beberapa alat pendakian di Wonosobo. Lokasinya tidak begitu dekat  dengan basecamp. Namanya Shelter Outdoor Wonosobo. Berikut kontaknya: +62 858-6992-9922. Barangkali ada yang butuh untuk urusan persewaan perlengkapan pendakian. 

Basecamp Blembem bersih dan luas. Fasilitas WC yang disediakan cukup banyak. Ada beberapa warung makan juga. Salah satu yang mencolok dari basecamp ini adalah peraturannya yang sungguh ketat! Jangan main-main soal sampah, dendanya bikin kejer. Sebelum pendakian, barang bawaandicek satu-persatu untuk menegtahui jumlah sampahnya. Pendaki juga tidak boleh membawa air dengan kemasan plastik. Di sana, disediakan sewaan jeriken air dan free trash bag untuk tempat sampah. Mereka juga memberikan plastik untuk membungkus pakaian ganti kita selama pendakian. Tujuannya tentu untuk menjaga agar bawaan tetap kering. 

Biaya simaksi pendakian Rp50.000,00. Dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Wonosobo, memang lebih mahal. Biaya ini sudah termasuk biaya ojek ke gerbang pendakian. Jarak basecamp dan gerbang pendakian cukup jauh. Btw, ojeknya pakai truk. Biasanya berbarengan juga dengan pendaki yang lain. Oh, iya, sewa jerikennya Rp10.000,00. Uangnya bisa dikembalikan Rp8.000,00 atau jerikennya bisa dijadikan hak milik pribadi. 

Kami mulai pendakian sekitar pukul 09:30 WIB dan sampai di puncak menjelang magrib. Durasi yang sangat panjang memang. Pendakian yang amat-sangat santai. Jalur pendakian diawali dengan kebun teh dan memasuki pos Kandang Celeng. Pos Kandang Celeng ini jalurnya agak becek jika dibandingkan dengan jalur pos yang lain. Hutannya juga cukup rimbun. 




Di sepanjang jalur pendakian, kami banyak berhenti untuk melihat jenis-jenis tumbuhan. Kami juga sempat istirahat lama sambil ngopi dan makan cemilan. Sambat kelelahan di sepanjang jalan tentu juga dilakukan. Hal lain yang menyenangkan adalah pembicaraan mendalam yang beberapa kali reflek terucap. Di tengah kelelahan, masih sempat memikirkan hal yang serius. Semacam deep talk yang biasa kami lakukan sebelum tidur (kalau sedang menginap bersama). Bedanya, ini dilakukan secara singkat, sambil kelelahan, di jalur pendakian. 



Setelah mendirikan tenda, satu rombongan tiba. Mereka asli dari Wonosobo, sepertinya sedang open trip karena rombongan mereka banyak sekali. Unggah-ungguh dan berkenalan sebentar, lalu kami masuk ke tenda. Siap untuk masak, perut sudah keroncongan. Kami sama-sama tau, yang terkenal dari Gunung Kembang adalah babinya. Diwanti-wanti juga oleh pihak basecamp untuk tidak membawa makanan yang baunya menyengat, ini dapat mengundang kehadiran si bagas a.k.a babi ganas. Selesai masak, kami menggantungkan semua logistik di pohon dekat tenda. 

Tak lama, rombongan dari Wonosobo memberi tahu bahwa dari tadi si bagas mengelilingi tenda kami. Kami disarankan untuk memindahkan tenda, bergabung saja dengan mereka. Awalnya menolak, karena di sana sangat ramai dan sudah pasti berisik. Suasana sepi dan tenang adalah yang kami cari. Setelah disampaikan bahwa logistik kami sudah raib dimakan babi, barulah ada rasa takut dan keatr-ketir. Untuk pertama kali juga kami melihat babi hutan secara langsung.

Akhirnya, tenda kami dipindahkan dekat mereka. Mereka yang membantu. Di dalam tenda, pun tidak bisa tidur karena takut diseruduk babi! Takut tendanya rusak, hahaha. Tengah malam, kami keluar dan bergabung ngobrol dengan mereka. Sambil ngopi tentu saja, untuk menghangatkan badan. Dibuatkan tempe mendoan juga. Lepas tengah malam, kami numpang tidur di tenda mereka. Salah satu teman mereka tidur di tenda kami. 

Begitulah, kita seringkali menolak niat baik orang lain dengan dalih apa yang kita pikirkan jauh lebih baik. Betapa angkuhnya saya sebagai manusia. Tidak bisa membayangkan jika malam itu tidak ada bantuan dari mereka. Terima kasih banyak! Tidak bisa kusebutkan satu-persatu, jumlah kalian banyak. Pokoknya, terima kasih!





Malam itu rasanya saya mau mati dan kapok naik gunung, dingin! Tapi, kapoknya hanya saat itu. Paginya sudah sombong normal kembali. Astri Juniarti adalah orang yang paling tau betapa lemah selemah-lemahnya saya soal dingin. Susah!

Kalau ada informasi yang ingin ditanyakan terkait Gunung Kembang, mari berinteraksi lewat kolom komentar atau bisa main ke media sosial saya: @dini__fr.


Wonosobo, 3 Juli 2021

18 Mei 2021

Budget Pendakian Gunung Ungaran, Yogyakarta--Semarang

 

Sumber: Dokumen Pribadi 

Salah satu yang sering ditanyakan ketika ingin mendaki, butuh biaya berapa sih buat naik gunung? Saya akan berbagi informasi tentang pengeluaran yang dihabiskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Ungaran. I'm not an expert, btw. Semua yang saya sampaikan hanya berdasar sedikit pengetahuan dan pengalaman pribadi.

  • Transportasi
Saya berangkat dari Yogyakarta ke Semarang menggunakan motor matic Mio GT yang borosnya nauzubillah. Menghabiskan sekitar Rp65.000,00 untuk bensin, PP. Perjalanan normal dari Yogyakarta ke Semarang menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam. Berhubung kemarin berangkat pagi dan jalanan masih sepi, 2,5 jam saya udah sampai di Semarang. Tepatnya di kos Astri, teman dalam pendakian ini. 
  • Alat dan Perlengkapan
Saya sengaja sewa alat dan perlengkapan di Semarang. Sebab ada rencana untuk bermalam di Semarang setelah pendakian. Untuk persewaan, umumnya biaya dihitung satu malam dua hari. Di tempat sewa ini, kalau sewa untuk dua malam tiga hari biayanya tidak dihitung 2x lipat. Ada potongan. Namun, ada juga tempat sewa yang menghitung biaya sewa menjadi 2x lipat. Berikut alat yang kami sewa untuk perlengkapan pendakian.
  1. Tenda double layer kapasitas 2 orang (1 x Rp20.000,00)
  2. Sleeping bag polar (2 x Rp10.000,00)
  3. Coocking set (1 x Rp7.000,00)
  4. Kompor (1 x Rp7.000,00)
  5. Gas isi full (1 x Rp7.000,00)
  6. Matras (2 x Rp5.000,00)
  7. Lampu tenda (1 x Rp5.000,00)
  8. Carrier 60L (1 x Rp20.000,00)
  9. Taracking pole (2 x Rp10.000,00)
Total sekitar Rp116.000,00. Dari Mas Sewaan, kami hanya diminta membayar Rp100.000,00, hehe (untuk hitungan satu malam dua hari). 
  • Retribusi
Biaya retribusi pendakian Gunung Ungaran via Perantunan sebesar Rp15.000,00/orang dan biaya parkir motor Rp4.000,00,
  • Logistik
Kebutuhan logistik menyesuaikan dengan selera masing-masing kalau mendaki. Paling penting air minyum harus cukup! Jangan pelit dan jangan males bawa air karena berat. Logistik dihitung untuk berapa kali makan berat selama pendakian, snack untuk ngemil selama pendakian atau ngobrol-ngobrol cantik di dalam tenda, dan buah yang banyak kandungan airnya (opsional). Kemarin kita menghabiskan sekitar Rp150.000,00 untuk logistik. Ini hitungannya sudah sangat banyak karena kami emang doyan makan~
  • Perlengkapan lain:
Perlengkapan lain yang tidak boleh dilupakan adalah P3K dan jas hujan. Sekali lagi, jangan pelit untuk beli perlengkapan P3K standart dan obat-obat pribadi. P3K yang selalu saya bawa biasanya Tolak Angin, handsaplast, pisau kecil, paracetamol, minyak cap kapak, dan koyo. Untuk minyak cap kapak dan koyo adalah yang paling wajib, sangat membantu menghangatkan badan :v 

Total yang kita habiskan untuk pendakian ini adalah Rp300.000,00-- untuk keperluan bersama. Dibagi dua jadi kurang lebih Rp150.000,00. Kalau untuk saya yang dari Yogyakarta, kira-kira totalnya Rp230.000,00++. Ini hitungan kasar ya, karena jajan-jajan kicik di perjalanan tidak masuk hitungan. 


#Mt.Ungaran #Ungaran