6 Juli 2020

Ambivert - Arhsy Mentari

Sumber: Dokumen Pribadi


Judul: Ambivert
Penulis: Arshy Mentari
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan kedua, April 2020.
Sipnosis:
Anak bertumbuh menjadi remaja kemudian dewasa dan menua. Begitu banyak peran yang dijalankannyadalam kehidupan. Membuatnya menjalani dua wajah atau lebih yang tidak jarang serupa dua arah berlawanan bahkan bagai dua persimpangan yang menarik ulur hatinya. Pengalaman membuatnya selalu terkikis, terukir, terjungkir. Hingga tak jarang ia memilih unutk menjalani keseharian dengan kepura-puraan.

Tokoh aku, seorang anak perempuan dari golongan masyarakat umum, mengalami dilema itu. Dilema yang bisa jadi mewakili kisah anak perempuan lainnya di sekitar kita yang sedang mencari jati dirinya. Bagaimana pola asuh, hingga persahabatan, penghianatan, dan asmara, seolah membuatnya terpaksa mengenakan berbagai persona. Topeng-topeng yang terbentuk tanpa sengaja. Topeng-topeng yang ingin dilepaskannya tanpa tersisa untuk menemukan jati diri. 

________________________________________________________________________________________________________________

Buku ini tiba bersama tiga buku lain. 
Berhari-hari selama menunggu mereka tiba, aku ngebatin, "Ambivet akan jd yg pertama kubaca!". Potongan kalimat di buku ini sempat diunggah oleh penerbitnya. Setelah membaca itu, aku jadi punya ekspektasi tinggi tentang buku ini.


Oh ya. Ini bukan review, hanya berbagi pengalaman saat membaca. .

Lalu, apakah ekspektasiku terbayar?
Jawabannya adalah, ya. Hanya pada lima halaman pertama. .

Nanti ku jelaskan. Kita bahas dulu bagian-bagian buku ini. Secara garis besar ada tiga bagian yaitu, (1) Ia dan Mereka berisik, (2) Tentang Kita, (3) Menjadi Diri Sendiri.

Lima halaman pertama di bagian ini sangat ajaib untukku. Penulis merangkum perasaan senang yang tidak bisa saya jelaskan saat pindah. Ini pengalaman pertamaku menangis saat membaca buku, padahal baru di halaman ke tiga. .

Pada sub Lingkaran Kecil — siapa kuartikan sbg keluarga, penulis bercertia sedikit tentang masa kecilnya.
Si Diam. "Tidak banyak hal detail yang bisa dipindahkan. Kalimat ini diambil pada saat memori selesai. Ingatan yg muncul tentang masa kecil itu adalah, "Tanganmu itu tangan perusak!", Terus bersama beberapa masa lalu yg bertubi-tubi memenuhi kepala.

Kemudian, Anak Tengah.
Bagian yg cukup pedih. Memberi pengalaman aku sebagai pembicara seperti sedang berdialog menyurahkan isi hati dengan sebuah buku. Apa kamu tau rasanya terasingkan tanpa ada seorangpun yang menarik kamu dari keterasingan itu? Tidak ada yang mengenalmu. "Jadilah tangguh dan bukan tiang untuk kau sanggah", pesan yang ku garis bawahi pada bagian ini.

Udah, segini aja hehe.
Lima halaman pertama itu seperti klimaks.
Aku menikmati bagian satu, dan sedikit menikmati pada bagian tiga. Aku membaca bagian dua hanya sbg disetujui, krn rasanya tidak baik berlalu begitu saja. Bukan berarti tidak bagus, hanya tidak relevan untukku. Bagian yang membahas tentang balada hubungan. Aku belum sampai pada kehidupan 'romantis' itu.

"Setiap org punya teras, ruang tamu, dan kamar. Masing-masing tuan rumahlah yang menentukan siapa yang boleh dan tidak, kpn dan luas kebolehannya". 

Secara keseluruahan, buku ini tentang perjalanan yang membawa kita pada berbagai fase kehidupan. Pengalaman dan pelajaran membuat kita harus memainkan banyak peran dengan berbagai topeng. Meskipun itu bukan topeng yang ingin kita kenakan. .

Dari sudut pandang seorang perempuan sebagai tokoh utama.

Nilai 7,5 / 10.

Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! -- Kalis Mardiasih


Sumber: Dokumen Pribadi
Judul: Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!
Penulis: Kalis Mardiasih
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan Pertama, Oktober 2019.
Sipnosis:
Setiap kali mendengar suara azan yang dilantunkan oleh suara sepuh terbata-bata, melihat bangunan madrasah Islam tradisional dengan keriaan anal-anak, atau sesederhana melihat papan nama masjid di perkampungan, saya sering merasa bahwa Islam telah cukup. --Islam yang Cukup

Kalis Mardiasih merisaukan fenomena beragama yang di tangan sebagian kalangan begitu eksklusif dan menyeramkan. Baginya, beragama seharusnya menyenangkan, dipenuhi kebaikan. Tidak sesak oleh amarah atau hasrat penaklukan.
Kebaikan-kebaikan itu ia temukan dalam praktik keberagamaan yang sederhana. Ia berbicara dengan orang-orang bersahaja, menyaksikan cara mereka mengamalkan kesalehan, dan menemukan Islam yang teduh di sana. Dalam dirinya, Islam tumbuh bersama dengan kegembiraan.

_________________________________________________________________________________________________________________

Buku yang dibeli sekitar akhir tahun 2019 akhirnya selesai dibaca. Setelah melihat penulisnya udah nerbitin buku lagi sekitar Maret/April lalu. Lalu ngebatin, "Astaga. Udah nerbitin buku lagi, padahal yang dibeli kemarin belum kubaca ≧ ω ≦"

Ini bukan review gaes, tapi senang ingin bercerita tentang pengalaman yang disajikan kompilasi menyelami isi buku ini.

Buku ini ringan dan renyah. Lagi dan lagi, dekat sekali dengan keseharian. Sesuai dengan pernyataan Mba Kalis sendiri yang menyatakan bahwa ia bukan pengarang yang mengusung tema Islam secara khusus. Tulisan-tulisannya didasari oleh pengalaman, baik yang dialaminya sendiri atau orang-orang yang terlibatnya. "Setiap pengalaman mestinya sah sebagai realitas keberagaman ..."

Buku ini membawa kesadaran tentang manusia tidak ada kata untuk berhenti belajar, mengenal hal-hal baru, dan mengakui keberagaman. Tidak menghargai satu hal Hanya dari satu sudut pandang. Mba Kalis menggambarkan pengalamannya yang juga pernah menjadi orang yang mudah "menghakimi perbedaan". Setelah lebih mengenal keberagaman dan buku, ia berhasil melepaskan kebiasaan tsb. Jangan pernah berhenti belajar dan selalu menambah wawasan tentang salah satu kuncinya🔑
—saya perlu usaha yang cukup keras untuk melepaskan dirimu dari belenggu hitam-putih, sampai sekarang masih berusaha.

Kemarin kompilasi Mba Kalis salah satu cuitan selebgram dan tanggapannya ditanggapi lagi oleh nitijen. Melihat santainya respon Mba Kalis, saya jadi bertanya dalam hati, "Kok Mba Kalis ini bisa tetap nongkrong ya ngadepin orang² yg jaka sembung .....". Akhirnya menjawab saya dapat di sub bab terakhir di buku ini — Pengalaman Saya "Menikmati" Bully di Media Sosial.
Sebelum sampai pada "Menikmati", tentu saja ada beberapa fase yang harus dilewatinya.

Sedikit pesan Gus Dur yang saya kutip dari buku ini, "Jika memang melakukan kesalahan, harus belajar untuk rela meminta maaf", ikuti dengan mudahnya yang terkenal, "Melarang ideologi dan bahaslah sia-sia dan itu tidak mungkin dilakukan".

Judulnya emang ngga salah. Hijrah jangan jauh-jauh, nanti nyasar! Nyasar ke mana? Baca aja sendiri bukunya. Barangkali dapat pengalaman yang berbeda ^^ ♡

PASAR LAMA


Sumber: Dokumen pribadi
Jaffron
Sumber: Dokumen pribadi

 

Jaffron, binatang yang perangainya menjelma  iblis dan malaikat. Tidak perlu bertanya, binatang ini tak memiliki nama ilmiah. 
Pulau ini dikenal dengan kualitas timahnya yang sangat baik. Tambang timah seperti mata pisau. Tapi bukan ini yang akan kuceritakan. Kota kecil di bagian barat pulau ini, pencaharian masyarakatnya selain melaut, sama seperti yang dilakulan orang-orang di zaman peradaban kuno dan masih bertahan hingga sekarang, bercocok tanam.


Penghasilan yang diperoleh baik dari laut maupun darat, semuaya diperjualbelikan di pasar Gebong. Pasar sebagai salah satu pemutar roda ekonomi. Apalagi pentingnya kalau bukan untuk mengisi perut!  Segala bentuk perkembangan sosial dalam masyarakat bisa ditemukan di pasar. Apalagi pasar Gebong, tidak perlu televisi untuk mengetahui kabar dari sebrang pulau. Para nelayan ketika membawa ikan kepada pengepul, merekalah yang menyampaikan berita buruk dan baik. Kemudian menyebar secepat kilat ke seantero pasar.


Semakin pasar Gebong berkembang, semakin lalailah mereka. Beberapa lupa perannya sebagai manusia. Sepanjang malam para lelaki berpesta tuak! Gebong menjadi pasar 24 jam! Sementara istri-istri mereka di rumah mengupas ketela sambil cemas berdebar membayangkan suami mereka pulang dengan membawa perempuan muda. Mereka juga gemar menghisap darah saudaranya sendiri. Para kelompok pengepul seringkali bersekongkol melakukan permainan harga. Jual-beli barang haram mulai marak.


Sebelum berhasil pemilik modal menguasai pasar, Jaffron bangun dan keluar dari sungai Jero. Sungai besar yang terletak tepat disebelah pasar. Selain karena geram dengan kegiatan orang-orang di pasar Gebong, ia bangun karena sungai tempat tinggalnya telah menguning akibat orang-orang pasar membuang sampah dan tai seenaknya.


"Kalian telah menjelma pembunuh!" maki Jaffron, sebelum  memporak-porandakan pasar Gebong.


Sebelum melanjutkan cerita yg tak populer ini, aku ingin memberi tahu bahwa gambar ini dibuat oleh orang-orang pasar generasi selanjutnya untuk mengenang Jaffron sebagai sejarah di masa lalu. Siapa yang menggambarnya? Entahlah aku hanya memotret.


Sumber: Dokumen pribadi
Sungai Jero
Sumber: Dokumen pribadi 


Penampakan Sungai Jero, tempat di mana Jaffron berasal. Padahal Jaffron tau, menginjak tempat tinggal manusia sama dengan mengunjungi neraka dunia. Lalu mau bagaimana lagi, binatang saja tak punya hasrat untuk tinggal di tempat yang kotor.


Hari itu merupakan peristiwa yang tidak terlupakan bagi orang-orang selanjutnya yang hidup di Pasar Gebong. Pembantaian paling ganas yang pernah terjadi di muka bumi. Namun, semacam jadi kesenangan bagi burung pemakan bangkai dan linta penghisap darah.


Manusia-manusia telah menerima pembalasan setimpal atas perbuatan mereka. Tak lantas membuat Jaffron puas. Setelah kejadian berdarah di Pasar Gebong, Jaffron meninggalkan daerah itu, sebab ia tau bahwa Sungai Jero tak akan kembali seperti sedia kala. "Dasar manusia! Jangankan masih hidup, sudah mati pun tetap meninggalkan bencana" umpatnya sebelum melesap dalam perjalanannya mengelilingi dunia.


Berdasarkan kabar burung yang beredar, kini Jaffron telah diberi titah oleh para dewa untuk menjaga danau tertua dan terdalam. Jaffron berhasil membuat danau yang terletak di Siberia tersebut menjadi danau terbersih di dunia!


Danau Baykal.


Sumber: Dokumen pribadi
Pasar Gebong
Sumber: Dokumen pribadi 


Bukan hanya karena peristiwa berdarah di masa lalu yang menjadi penyebab pasar Gebong hanya tinggal cerita. Laut pulau ini menjadi lintasan perdagangan dan tempat persinggahan bagi para pelancong. Beginilah nasib daerah kepulauan. Seiring waktu, maka masuknya berbagai kebudayaan tidak dapat dihindari. Awalnya orang-orang membangun rumah bertingkat hanya untuk menjadikannya kamar tidur. Lantai bawah dijadikan dapur, ruang berkumpul, dan tempat penyimpanan barang. Hari ini rumah bertingkat dijadikan sebagai simbol kekayaan harta.
 

Kerusakan yang berawal dari Sungai Jero kini merambat ke darat, laut, bahkan hingga cakrawala. Bangunan-bangunan dibangun tinggi menjulang menutupi langit. Menara bangunan-bangunan itu menghembuskan asap-asap hitam ke udara. Kata mereka, itu bagian dari proses pengelolahan hasil tambang. Jika penghuni pulau ini ingin sejahtera, maka inilah yang harus dilakukan. Lubang-lubang raksasa digali sedalam-dalamnya. Memperkosa bumi adalah hobi baru manusia di zaman ini. Menulis cerita ini sebenarnya juga membingungkan. Standar sejahtera siapa yang harusnya diterapkan pada kehidupan masyarakat pulau? Apakah standar mereka, orang-orang yang bahkan lebih maju dari pada zaman itu?


Sudah cukuplah meratapi akhir dari cerita ini. Pasar Gebong yang memutar roda ekonomi, kini sudah tak lagi pada porosnya. Modernisasi turut mengambil peran dalam menjadikan pasar ini tinggal cerita. Sekarang mereka punya pasar baru, tapi hanya pemilik kantong tebal yang bisa ke sana.


Puing-puing bangunan ini menjadi saksi bisu bahwa sesungguhnya setiap masyarakat memiliki standar mereka sendiri tentang sejahtera. Tak setinggi milik para pengejar zaman. 


Bencana. Bencana. Bencana bertubi-tubi.

6 Juni 2020

6 April 2020

LAUT BERCERITA (BUKAN NOVEL LEILA S. CHUDORI)

Saya rasa banyak hal yg tidak diajarkan, juga banyaknya larangan. Saya tumbuh dan berlayar pada penangkaran ikan ikan laut. Tenggelam karena ketidakpahaman dan melewati masa tercabik luka. Saksi luka tak meninggalkan darah, sebab bersih disapu air laut.

Waktu demi waktu, saya memahami nada gerak air dalam lautan.
Melihat ke atas, ada dunia dan kehidupan yang begitu luas di sana. Melihat lebih dalam, ada begitu banyak keindahan yang belum mampu saya jamah. Hidup pada batas penangkaran tak lantas membentuk seorang penurut.

Pura-pura menurut, iya.

Salah kah memelihara ego?
Dipikir mudahkah meluluhkan hati yg telah membentuk sendiri arahnya selama bertahun-tahun?

Saya sampai bingung, tujuan hidup ini apa? (ya, tentu saja karena begitu banyak larangan). Kadang bertanya-tanya, sesungguhnya saya ini hidup pada zaman apa.

Setelah berjalan terseok, senantiasa memendam protes, tangis, dan amarah seorang diri, lalu tiba-tiba Cahaya itu datang dengan kilaunya, "Apa-apaan seperti itu?!"

Hai, Cahaya. Harusnya saya yang bertanya, "Apa yg kau lakukan?!". Kau memang menyinari, tapi kau bahkan tidak pernah mengenali siapa Saya.

Oh, ya. Tentang larangan. Rasanya, semakin ia menggunung maka semakin besar hasrat saya untuk segera bisa berdiri di atas kaki sendiri.