12 Maret 2019

ANALISIS UNSUR FISIK DAN UNSUR BATIN PUISI "YANG FANA ADALAH WAKTU-SAPARDI DJOKO DAMONO"


YANG FANA ADALAH WAKTU- SAPARDI DJOKO DAMONO

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982

Analisis Puisi


A.      UNSUR FISIK PUISI

1.      Diksi
Diksi atau pilihan kata yang digunakan pada puisi Yang Fana adalah Waktu adalah
penggunaan kata konkrit. Kosa kata yang digunakan ialah kosa kata keseharian yang sudah ada dan tidak mmunculkan makna yang baru
2.      Imaji
Pada bait “memungut detik demi detik,merangkainya seperti bunga”, memunculkan imaji visualisasi. Bait tersebut membuaut pembaca seolah melihat secara langsung bagaimana detik waktu dipungut dan dirangkai seperti sebuah rangkaian bunga.
3.      Rima
Pada setiap akhir sajak diakhiri oleh bunyi vokal i, u, a, sebagai bunyi yang lembut. Maka membuat puisi ini tergolong puisi kamar. Memiliki jenis rima berpeluk.
4.      Tipografi
Penulisan menggunakan rata kiri seperti gaya penulisan pada umumnya.
5.      Gaya bahasa
a)      “memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga”, merupakan majas simbolik. Detik yang dipungut dan dirangkai seperti bunga sebagai simbol dari waktu-waktu sepanjang hidup hingga membentuk sebuah rangkaian kehidupan yang telah kita lalui.
b)      “kita abadi”, merupakan majas totem pro parte yang mengungkapkan kita sebagai keseluruhan objek, padahal yang di maksud adalah jiwa.
c)      “detik demi detik”, sebagai majas aliterasi yang mengulang konsonan D di awal setiap kata secara berurutan.
d)     “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
             tanyamu.
Kita abadi, penggunaan majas asindetrton. Bait kita abadi diungkapkan tanpa      menggunkan    kata penghubung dari bait sebelumnya.
e)        “Yang fana adalah waktu. Kita abadi”, merupakan sebuah ungkapan   paradoks.
6.      Kata konkrit
a)      Fana, melambangkan sesuatu yang bersifat sementara dan tidak bersifat kekal. Pada puisi yang dimaksud ialah waktu.
b)      Abadi, pilihan kata yang mewakili sesuatu yang bersifat kekal dan selamanya.
c) Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, pada bait ini dapat dibayangkan oleh pembaca melalui imaji. Tentang waktu yang telah kita lalui, seolah dapat dirangkai menjadi sebuah skenario kehidupan yang telah kita jalani selama ini.


B.       UNSUR BATIN PUISI
1.      Tema
Puisi Yang Fana adalah Waktu memiliki membawa tema ketuhanan. Setiap bait yang diungkapkan berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan.
2.      Rasa
Pokok permasalahan yang diangkat oleh pengarang ialah tentang kehidupan manusia yang tak selamanya abadi. Tapi sesungguhnya yang abadi adalah jiwa-jiwa manusia itu sendiri.
3.      Nada
Penyair menyampaikan tema dan rasa dengan cara menceritakan sebuah kejadian yang telah lalu. Selain itu, melalui bait pertama pengarang menyampaikan sebuah pernyataan. Pengarang menyerahkan begitu saja kepada pembaca untuk mencari makna tersurat dari bait puisinya.
4.      Amanat
Amanat yang terkadung dalam puisi ini disampaikan pengarang secara tersirat atau secara tidak langsung. Pembaca dibebaskan untuk mencari dan menginterpretasikan sendiri. Berdasarkan tema dan rasa yang telah disampaikan, puisi ini memberi pesan tentang kehidupan manusia di dunia. Secara eksplisit kita paham bahwa semua manusia kelak akan meninggal, sementara waktu terus berjalan. Tetapi, sesungguhnya yang abadi itu bukanlah waktu, melainkan jiwa manusia itu sendiri. Jiwa yang akan menempuh kehiudupan setelah kehidupan di dunia. Pada kehiupan inilah manusia akan hidup kekal dan abadi selamanya. Berikut dalil yang juga menjelaskan hal ini:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Artinya:

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal (Q.S Al-Mu’min, ayat:39)

Tafsir Ayat

Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kenikmatan sesaat bagi manusia, kemudian setelah itu terputus habis, maka janganlah kalian condong kepadanya. Sesungguhnya alam akhirat dengan segala kenikmatannya yang langgeng adalah tempat tinggal di mana kalian akan menetap selamanya di sana. Maka hendaklah kalian mendahulukannya dan beramal untuknya dengan amal-amal shalih yang membuat kalian berbahagia di sana.


10 Maret 2019

TEORI FEMINIS ROSMARIE TONG DALAM NOVEL LOVE IN THE KINGDOM OF OIL KARYA NAWAL EL-SAADAWI

Membicarakan gerakan feminis atau perihal seputar perempuan merupakan suatu pembahasan yang menarik. Menurut Kamla Bahsin dan Nighat Said Khan, feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat di tempat kerja dan keluarga serta tindakan sadar untuk mengubah keadaan tersebut. Hal ini memang tidak ada habisnya diperbicangkan, karena secara historis posisi perempuan seringnya dirugikan. Dulu perempuan tidak memperoleh haknya dengan sesuai. Seperti kedudukan sebagaimana yang sewajarnya diberikan sesuai dengan tugas dan fungsinya yang besar dalam kehidupan.

Menurut prediksi beberapa ilmuan, penderitaan perempauan sudah mulai sejak 200 tahun Sebelum Masehi. Perempuan di tempatkan pada derajat yang sangat rendah dan hidup di bawah keganasan laki-laki. Bahkan tidak ada batasan bagi suami dalam memperlakukan istrinya. Sebagian Yahudi membolehkan seorang bapak untuk menjual anak perempuannya. Di Jazirah Arab, kelahiran anak perempuan adalah sesuatu yang memalukan bahkan dianggap sebagai kutukan. Sementara di Mesir dan Persia, perempuan dianggap sebagai alat pemuas nafsu laki-laki dan diperlakukan dengan sadis.

Novel Love In The Kingdom Of Oil menggambarkan keterkaitan antara perempuan dengan sejarah Mesir pra-Islam. Pada masa ini perempuan di posisikan sebagai imperior yang harus selalu tunduk atas perintah laki-laki, sementara laki-laki bertindak sebagai superior yang bebas memerlakukan perempuan sesuai kehendak mereka. Cerita pada novel ini juga memberikan gambaran mengenai empat teori feminis yang dibagi oleh Rosmarie Tong.

Feminisme liberal, latar belakang kemunculannya adalah perlakuan yang menempatkan perempuan bergantung di bawah laki-laki dalam bidang ekonomi serta kekangan bagi perempuan untuk bekerja dan menaikan derajat dalam bidanng ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Penyamarataan hak dalam beberapa bidang tersebut yang diperjuangkan oleh feminisme liberal.

“Ya. Biasanya seorang perempuan yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah itu tidak waras.” (Hlm. 8)

 “Seorang perempuan muda menceburkan diri ke dalam pekerjaan yang tidak ada ujung pangkalnya seperti mengumpulkan patung. Bukankah itu gejala pemyakit atau bahkan perbuatan yang tidak wajar?” (Hlm.8)

Pada hari berikutnya keluar titah raja yang melarang perempuan meninggalkan rumah dan, jika ada perempuan meninggalkan rumah, terlarang memberikan tempat berteduh kepadanya atau menyembunyikannya. (Hlm. 11)

Kepala departemen memandangnya dengan mata terbelalak, “Bagian ini hanya menerima laki-laki. Pekerjaan yang kami lakukan, maksudku, menggali tanah, tidak cocok untukmu”. (Hlm. 35)

“Setiap perempuan yang tertangkap dengan kertas dan pena dalam genggamannya akan dihukum.” (Hlm. 81-82)

“Apa katamu,’Politik’?Apa kau tak tahu terlarang bagi kaum perempuan menceburkan diri dalam politik?” (Hlm. 179)

Pada halaman awal digambarkan secara nyata bahwa perempuan yang bekerja dianggap suatu hal yang tabu dan tidak wajar. Nawal menyampaikan satir bahwa pada zaman ini perempuan diposisikan di bawah laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Penguasa ikut serta turun tangan dalam mengambil langkah terhadap perempuan  yang bekerja di luar rumah. Perempuan dianggap lemah dan tidak mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki. Perempuan hanya bekerja untuk memuaskan nafsu dan melayani laki-laki, seperti pembantu rumah tangga yang tidak dibayar.

Ketakutan besar juga muncul ketika perempuan mulai memiliki pendidikan. Perempuan yang mulai membaca, menulis dan memiliki banyak pengetahuan akan dikecam karena dianggap sebagai tekanan besar. Karena itu membaca dilakukan secara sembunyi-sembunyi saat suaminya tertidur pulas. Dengan ilmu pengetahuan, dapat membuat perempuan sadar dan memberontak atas ketidakadilan yang selama ini terima. Maka adanya pergerakan yang menuntut kesamarataan antara perempuan dan laki-laki dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial budaya untuk menghapus anggapan yang menekan posisi perempuan dari dalam aspek kehidupan.

Feminisme radikal, menganggap bahwa perempuan ada pada penindasan paling bawah. Disebut radikal karena anggapan bahwa kemampuan reproduksi pada perempaun adalah kutukan. Revolusi terhadap kelas ini berarti revolusi terhadap seks. Kaum ini memperjuangkan anti pornografi yang dianggap sebagai simbol penindasan laki-laki terhadap perempuan.
“Mengapa kau tidak menutup wajahmu dengan cadar? Apakah kau tidak punya malu?” (Hlm. 24)
Perempuan harus menunggu suaminya hilang selama tujuh tahun, ia tidak boleh kawin dengan laki-laki lain. Janin tetap hidup dalam rahimnya selama tujuh tahun, dan janin itu tetap milik lelaki yang hilang itu sampai ia kembali. Perempuan tidak lebih dari wadah. Tidak ada undang-undang tentang perempuan yang hilang. Seorang perempuan tidak harus hilang supaya suaminya dapat kawin lagi dengan perempuan lain. (Hlm. 107)
Masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan hanya sebagai objek seksual. Laki-laki bebas berganti pasangan dalam berhubungan seksual, sementara perempuan posisinya tetap berada di bawah kendali laki-laki. Bahkan sama sekali tidak memiliki hak atas tubuhnya. Saat ini banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang menimpa perempuan. Anehnya sesudah menjadi korban, perempuan kembali disalahkan. Alasan yang sering digunakan ialah kesalahan perempuan yang tidak menutup aurat. Padahal faktanya yang sudah berpakaian sopan juga kerap menedapat tindakan pelecehan seksual. Harus dipahami bahwa yang salah bukan pakaian yang dikenakan, tapi pikiran yang harus diluruskan. Bagaimanapun setiap orang memiliki hak atas tubuhnya masing-masing.
Feminisme marxist, meyakini bahwa keadaan sosial ditentukan secara sadar. Sehingga secara sadar dapat diubah. Secara politik perempuan memiliki kekuasaan dalam menetukan kehidupan, tetapi terampas oleh budaya patriarki.
Lelaki itu memaksa perempuan itu berlutut seperti seekor unta. Lelaki itu memilin selembar kain bekas, kemudian dijadikannya bantalan bulat dan diletakannya di atas kepala perempuan itu. Kemudian ia mengangkap tempayam itu dengan kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepala perempuan itu. Leher perempuan itu bengkok karena menahan beban itu. (Hlm. 48)
Perusahaan. Apa itu perusahaan? Siapa pemilik perusahaan ini? Berapa mereka membayar setiap hari untuk tempayam-tempayam ini? Apakah lelaki mendapat upah? Sejak perempuan itu datang, perempuan itu tidak mendapat apa-apa. Ia tidak pernah memegang uang. (Hlm. 71)
Asumsinya ialah sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Penguasa memiliki kemampuan untuk menjaga kesejahteraan, namun nyatanya penguasa yang bersifat kapitalis menggunakan perbudakan kaum perempuan sebagai pekerja.
Feminis psikoanalitik, berangkat dari pernyataan Sigmund Freud yang menyatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak lengkap. Keadaan ini membuat perempuan iri karena tidak memiliki penis seperti laki-laki, bahkan hal ini disebut sebagai suatu penyakit. Menurut analisis mengatakan bahwa, kebutuhan dasar setiap manusia adalah seksualitas. Maka perempuan dianggap tidak memiliki sesuatu untuk dimainkan, sebagaimana penis yang dimiliki oleh laki-laki.
“Sebagai ganti keinginannya yang tidak terpuaskan, perempuan itu mendapat nikmat dari menusuk-nusukkan pahat ke dalam tanah seolah-olah pahat itu penis laki-laki.” (Hlm. 8)
“Sejak kecil, perempuan mencari penis tetapi sia-sia. Ketika sudah putus asa karena tidak berhasil menemukannya, keinginan ini berubah menjadi keinginan yang lain.” (Hlm. 9)
Feminis psikoanalitik menolak teori Freud. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanyalah bahwa perempuan haid, mengandung, melahirkan, dan menyusui, selebihnya tidak ada yang membedakan.

24 Februari 2019

Toko Batik Yudhistira

Toko ini masih sama seperti dulu, masih menyediakan bangku di dekat pintu masuk. Padahal sudah berlalu berapa generasi, kenapa mereka tidak merubah tatanannya. Dua orang dari arah parkiran berjalan ke arahku, tapi sedari tadi mereka tak kunjung sampai. Tuk,tuk,tuk…. Suara ujung tongkatnya yang beradu dengan konblok.

“Pasangan tunanetra”, gumamku pelan. Mereka hanya menggunakan satu tongkat. Tangannya saling menggenggam erat. Dari tempatku duduk, suara mereka hanya terdengar seperti gumaman saja. 
Mereka melewatiku, tentu saja aku memerhatikannya. Mereka merundingkan warna baju batik yang akan mereka beli. Tidak ada perdebatan, dan tidak ada pramuniaga yang menahan tawa melihat wajah pengunjungnya. Keberadaan mereka membuatku jadi teringat padamu. Apakah ini kali pertama mereka datang ke sini? Jika iya, berbeda sekali dengan kita, dulu.

***

Orang Jogja mana yang tidak kenal keramaian Jalan Taman Siswa? Terlebih malam hari, jalan ini menjadi begitu padat dan penuh asap polusi. Tapi motor tuamu masih sangat kuat membawa kita berdua menyusuri jalanan ini. Dari makanan pinggiran, hingga menu kebule-bulean, bisa kita dapatkan di sini. Aku selalu menyerahkan padamu, untuk urusan memilih tempat makan. Kamu lebih bisa mengatur semuanya. Kapan harus memenuhi keinginan, dan kapan harus hidup prihatin. Kamu pintar sayang, dan kamu yang membuat Jogja semakin terasa nyaman bagiku.

Dulu kamu aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, orang-orang mengenalmu. Sebagai orang yang tidak populer, aku merasa geram dan senang. Senang karena kamu yang penuh pengetahuan, selalu menjadi sumber informan dan temanku berdiskusi secara pribadi, dan geram karena kamu selalu menggunakan batik yang sama pada setiap kegiatan resmi yang kamu hadiri. Andai saat itu kamu lebih peka pada bajumu yang sudah memudar warnanya.

Malam itu kita sempat berdebat ringan di parkiran Toko Batik Yudhistira. Kamu marah denganku yang ingin membelikanmu baju batik baru. Padahal aku sudah menyisihkan uang makanku selama sebulan terkahir. Sadar tidak sih, betapa anehnya kamu dulu. Tapi, aku ya, tetap diriku, dan kamu tidak akan pernah mematahkan apa yang kuinginkan. Aku tidak tau betul bagaimana perasaanmu saat itu, apa kamu merasa gengsi dibelikan baju olehku? Seharusnya biasa saja, aku tidak pernah perhitungan sedikitpun untukmu. Bukankah kamu juga begitu?

Pramuniaga yang melihat pertengkaran kita dari balik etalase menahan tawa saat kita masuk ke dalam. Kamu sadar tidak kalau saat itu mereka menertawakanmu yang bermuka masam? Aku sih, tidak peduli. Ini adalah hadiah pertama untukmu, sejak kedekatan kita. Aku jadi tau, ternyata mencarikanm baju sangat sulit. Kamu cerewet! Pantas baju yang kamu pakai hanya itu-itu saja.

***

“Sayang, ayo masuk. Bantu aku memilih batik yang cocok untuk bertemu klien, besok. Anak-anak juga ingin, aku tidak bisa memilihkan untuk mereka”.
Ah, terlalu lama memikirkanmu. Suamiku memanggil, maaf aku harus masuk dulu.


Terminal F5
Sabtu, 23 Februari 2018
14:24 WIB

16 Desember 2018

ANXIETY DISORDER - CERPEN

Sumber Gambar: Google

Lihat wajah laki-laki yang selalu datang setiap malam telah larut, ia bebas menginjakkan kakinya dirumah ini kapanpun. Kepalanya botak licin membuatku semakin enggan lebih lama melihat rupanya. Tangannya yang kurus dan hitam terbakar matahari selalu membawa bendera merah. Perempuan setengah baya di rumah ini melayaninya dengan baik, tapi mereka tidak peduli dengan kehadiranku. 

Di tengah ruang kamar aku duduk terpaku. Berjam-jam, hingga seringkali aku marah dengan sinar matahari pagi yang perlahan merambat melalui ventilasi, macam sinar dari neraka. Bagaimana tidak, sepanjang malam hingga pagi otak ini bekerja memikirkan nasib mereka. Lalu sinar itu membakar semua lamunanku. Kalau aku tidak memikirkannya, siapa yang peduli? Sekumpulan manusia yang diberi iming-iming atas nama emansipasi. Mereka dikumpulkan, diperlakukan (seolah) dengan baik. Dirayu, dipenuhi segala kebutuhannya, bersamaan dengan aturan-aturan yang penguasa tetapkan. Termakanlah semua.

Saat waktunya tiba, aku lihat, aku lihat! Perempuan yang semulanya cantik, kini jadi tak sempurna. Satu-persatu mereka potong bagian hidungnya, lalu telinga kiri dengan alasan agar mereka tak sering membantah. Dicongkel bola mata kanan agar mereka buta akan realitas, hingga pada wajah yang indah hanya tersisa bibir untuk menyampaikan semua kebohongan. Semua yang berpasang disisakan satu, agar mereka memandang dunia hanya dengan satu persepsi. Tatapan sayu dari sebelah mata yang uratnya menjerit, kosong. Entahlah apa itu masih berfungsi dalam membedakan banyak warna atau malah seperti binatang yang hanya mampu melihat satu warna. 

Melihat mereka di balik balutan gamis, di balik kerudung, juga di balik gerai rambut yang indah. Semuanya cacat! Bahkan sebagian wajah bopeng terenggus koreng. Belatung saja najis menggerogotinya. Burung gagak yang tak nafsu melahap raga mereka terbang memutar di atas distrik setan, hanya gemar mencium aroma kebusukan tapi tak sudi mengotori paruhnya dengan daging yang tak suci. Aku rasa tuhan juga tak sudi memasukkan mereka ke neraka paling dalam.

***

Sorot mata Ibu melahap seluruh tubuhku secara utuh ketika aku menyapanya dan mulai mengambil secentong nasi yang pertama. Aku menatap Ibu dengan ekspresi bingung, kemudian Ibu hanya menggeleng yang sama sekali tak memberi kejelasan arti tatapannya. Di meja makan sederhana dengan tiga kursi ini kami terbiasa makan bersama walau hanya makan malam yang menjadi momennya. Terkhusus pagi hari kami hanya berdua, sebab Ayah selalu pergi sebelum cahaya mentari sempat mencakar bumi. Tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama sekali tidak makan malam bersama Ayah, seingatku semua berjalan seperti biasa.

Usai menghabiskan sarapan, duduk di tepi pintu masuk menjadi rutinitasku. Jangan tanya kenapa aku tidak berangkat sekolah, Ibu memberhentikannya ketika aku kelas 2 SD kemudian tak pernah lagi  mengizinkan bermain dengan teman-teman di sekitar rumah. Membantunya mengerjakan pekerjaan rumah pun begitu. Tubuhku putih pucat dan rapuh, mungkin akibat tidak banyak gerak dan tidak pernah terkena cahaya matahari. Setiap aku memohon untuk pergi ke luar, Ibu selalu mencegah dan mengatakan bahawa itu bukan duniaku. Tida ada yang istimewa dari orang yang kesepian seperti diriku. Terkadang aku sampai tidak ingat waktu yang kuhabiskan untuk apa saja, akibat hidup yang terkurung dalam kubus yang bernama rumah.

Aku tak paham di zaman apa aku berada. Terkadang melihat Ayah pulang larut malam dengan keadaan tergesa-gesa. Jika sudah seperti ini biasanya esok hari akan ada beberapa orang yang datang kerumah untuk mencari Ayah. Padahal Ayah tidak ada. Meski aku tidak tahu betul siapa yang datang, karena Ibu selalu memintaku untuk tidak keluar kamar tapi sayup-sayup aku mendengar bahwa mereka mencari Ayah. Beberapa kali aku bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada Ayah, tapi Ibu marah karena sudah mengingatkan berapa kali bahwa itu bukan urusanku. 

Tak jarang pula mereka bertengkar setelah kedatangan orang-orang yang tak di kenal itu. Pernah suatu malam Ibu memanggul tas besar hendak lari meninggalkan rumah. Di balik tubuh yang gemetar ketakutan aku hanya berusaha mendengar pembicaraan mereka.
“Perjuangan untuk rakyat!”, satu-satunya kalimat Ayah yang paling kuingat setiap kali menahan Ibu yang hendak pergi. Perjuangan rakyat apa? Rakyat siapa? Untungnya bagi keluarga ini apa kalau aktifitas Ayah hanya membuat Ibu ingin lari. Aku benar-benar buta terhadap apa yang sedang terjadi.

***

Kembali menekur di tengah ruang kamar, menutup mata dengan kedua telapak tangan. Larut malam begini siapa yang berbisik di telingaku, berteriak, menjerit, menuntut. Peluh sedari tadi membuat bajuku lecap, butirnya sebesar biji jagung mengalir melalui dahi, pelipis, pipi, bermuara di dagu kemudian metes membasahi baju. Kenapa di sini ramai sekali, hiruk pikuk teriakan. Bagaimana kalau mereka menyentuhku. Ibu, di mana Ibuku? Tolong, mereka semua berteriak. Aku tidak ingin mati sekarang, Bu! Bukankah sudah sering kuceritan pada Ibu tentang bagaimana kematian yang kuinginkan. Jangan pernah ada yang mengirim karangan bunga ke rumah, aku hanya ingin raga yang datang dan duduk bersemayam di rumah duka.

“Pengikut PKI”

“Bajingan!”

“Penghianat negara!”

“Kemari kau biar mampus, akan kuteguk semua darahmu sebagai tanda kemenangan!”

Aku mendekap erat tubuh sendiri sehingga tak ada ruang bagi sebutir jarum untuk menyelip. Sum-sum tulang belakangku nyeri dibantai tsunami. Mimpi kau! Mimpi! Hanya mimpi kalau kau temukan ada satupun wajah cantik di sana. Di tengah distrik setan. Tak ada yang sadar! Tak ada yang berani melawan, mereka menganggap ini sebuah kebanggaan. Mereka bilang ini tahap tertinggi dari emansipasi. Nenek moyangmu! Anggota badan hanya kau jadikan bahan eksploitasi.
Kala tersadar, aku coba kabur, berlari sekuat tenaga. 

Di tengah distrik setan, terus coba mencari sebuah perkampungan. Jangan kira aku senang bisa lari! Aku lebih takut kalau-kalau aku tertangkap oleh salah satu dari mereka, matilah aku. Tidak dapat ku bayangkan, dihukum oleh mereka, kemaluanku ditusuk dengan sebilah bambu runcing hingga menembus kepala. Lalu mereka potong hidungku, kemudian mencongkel mataku, seperti yang mereka lakukan pada perempuan-perempuan sebelumku. 

Linu dalam dadaku sedikit mengurang ketika menemukan sebuah perkampungan. Aku masuk ke salah satu rumah. Seorang ibu sedang menyusui balitanya. Tenang sekali kehidupan orang ini, pikirku. Setelah nampak dengan jelas, ternyata dia temanku ketika SD. Bingung bagaimana menceritakan semuanya, kuputuskan untuk pergi. Toh, belum tentu ia peduli dengan situasi yang sedang terjadi, baginya mungkin lebih baik mengurus anak kesayangan saja. Kalau tidak, ini hanya akan membuat ibu dan balita ini menjadi resah. Tidak ada yang menjamin bahwa pelarianku aman.

Aku harus menyelamatkan semua yang terperangkap di sana. Aku menghampiri segerombolan pemuda kampung, tentu meminta bantuan. Kuceritakan semua hal terkait duduk perkara. Kemudian dengan segala rencana aku kembali ke tempat laknat dalam hutan itu. Menyelinap masuk, berusaha agar tak ada yang sadar dengan keberadaanku.

***

Hanya saat masih kecil kita sering terbangun dari tidur dengan ingatan mimpi yang indah. Bisa jadi mimpi itu datang dari dongeng yang disampaikan Ibu secara rutin setiap malam sebelum kita terlelap. Kalaupun terbangun dengan mimpi buruk, Ibu akan selalu siaga memelukmu yang masih bau masam keringat semalaman, lalu ia akan mengelus punggungmu hingga ketegangan hilang. 

Berbeda dengan pagiku, hangat yang menyerap di tubuhku tidak seperti biasanya. Tidak ada keringat berbau masam. Kepulan asap sesak memaksa memasuk melalui ventilasi di atas pintu. Panas, ini bau api. Apalagi yang sedang terjadi. Aku sudah cukup lelah. Harus bagaimana lagi aku membedakan apakah segudang hayalan dan kekhawatiran itu ingin mengajak imajinasiku kembali berkelana atau ini memang nyata. Belum cukupkah pikiranku disiksa dengan semua ini. 

Aku memeluk erat guling yang sudah tipis dan bau apek akibat tak pernah dijemur Ibu, wajahku terbenam di baliknya. Sayup-sayup terdengar suara Ayah seiring dengan dadaku yang semakin sesak oleh banyaknya asap yang masuk ke dalam paru-paru.

“Sudah! Tinggalkan saja, anak cacat tidak akan memberi manfaat! Ayo lari sebelum semakin banyak massa yang menegejarku!”.


15 September 2018

Soe Hok Gie Puisi Mandalawangi-Pangrango




Mandalawangi-Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie